Unsur Unsur Lingkungan (Biotik dan Abiotik) Serta Arti Pentingnya bagi Kehidupan

Manusia hidup tidak terpisahkan dari lingkungannya. Lingkungan manusia ini dapat terdiri dari lingkungan sosial dan juga lingkungan alam. Lingkungan sosial adalah yang berkaitan dengan hubungan antar manusia lain, sementara lingkungan alam adalah yang berhubungan dengan berbagai hal atau alama di sekitar kita yang bukan manusia.

Jika diperhatikan, manusia selalu dan pasti membutuhkan lingkungan untuk melangsungkan hidupnya. Lihat saja saat manusia bernafas, makan, minum, menjaga kesehatan, dan lainnya, di mana semua kegiatan ini memerlukan keberadaan lingkungan.


Pengertian Lingkungan

Pengertian lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang dapat memengaruhi perkembangan kehidupan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Lingkungan ini dapat dibedakan dalam dua bentuk, yakni lingkungan biotik dan abiotik. Lingkungan biotik dan abiotic ini memiliki perbedaan mendasar yang bisa dibedakan secara sederhana. Biotik adalah segala yang terkait dengan unsur kehidupan, sementara abiotic adalah segala yang tidak memiliki untur kehidupan.

Jadi, ketika di sekolah, contoh lingkungan biotiknya bisa berupa teman-teman sekolah, bapak ibu guru dan karyawan, serta semua orang yang berada di sekolah, di tambah lagi dengan berbagai jenis tumbuhan di kebun sekolah dan hewan-hewan yang ada di sekitar.

Adapun lingkungan abiotik yang ada di sekolah contohnya adalah udara, meja, kursi, papan tulis, pagar sekolah, lemari, gedung sekolah, dan berbagai macam benda mati lain yang ada di sekitar.

Lingkungan yang terdiri dari sesama manusia ini juga sering disebut sebagai lingkungan sosial. Lingkungan sosial ini membentuk sistem pergaulan memiliki peranan besar dalam membentuk kepribadian seseorang.

Unsur Lingkungan Hidup

Jika dilihat menurut isi dari Undang-Undang No. 4 Tahun 1982, pengertian lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya berupa manusia dan perilakunya yang memengaruhi kelangsungan perikehidupan serta kesejahteraan manusia dan juga makhluk hidup lainnya.

Merujuk dari pengertian tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa lingkungan hidup tersusun dari berbagai unsur yang saling berhubungan satu sama lain. Unsur lingkungan hidup yaitu unsur biotik, abiotik, dan sosial budaya.

#1 Unsur Biotik
Unsur biotik adalah unsur- unsur makhluk hidup atau benda yang dapat menunjukkan ciri-ciri kehidupan, seperti ciri bernapas, membutuhkan makanan, tumbuh, serta berkembang biak.

Unsur biotik ini terdiri dari manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Secara umum, unsur biotik juga dapat dibagi ke dalam kelompok produsen, konsumen, dan pengurai.

  1. Produsen, adalah bentuk organisme yang dapat membuat makanan sendiri dari bahan anorganik sederhana. Pada umumnya, produsen adalah tumbuhan hijau yang dapat membentuk bahan makanan (zat organik) melalui suatu proses khusus berupa fotosintesis.
  2. Konsumen, adalah kelompok organisme yang tidak mampu membuat atau memproduksi makanannya sendiri. Konsumen terdiri dari hewan dan manusia. Karena tidak bisa membuat makanan sendiri, konsumen memperoleh makanan dari organisme lain, baik dari hewan maupun tumbuhan.
  3. Pengurai atau perombak (dekomposer), adalah kelompok organisme yang mampu menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme yang sudah mati. Pengurai berperan dalam menyerap sebagian hasil penguraian dan melepas bahan-bahan yang sederhana yang dapat dimanfaatkan oleh produsen. Pengurai terdiri dari bakteri dan jamur.


#2 Unsur Abiotik
Unsur abiotik adalah segala unsur alam yang berupa benda mati atau tidak menunjukkan ciri kehidupan, yang dapat mendukung kehidupan makhluk hidup. Unsur abiotik contohnya dapat berupa tanah, air, cuaca, angin, sinar matahari, dan berbagai bentuk bentang lahan.

#3 Unsur Sosial Budaya
Unsur sosial budaya adalah bentuk unsur lingkungan yang merupakan penggabungan antara cipta, rasa, dan karsa manusia yang disesuaikan atau dipengaruhi oleh kondisi lingkungan alam setempat.

Contoh unsur sosial budaya ini adalah adat istiadat, berbagai hasil penemuan manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan lain sejenisnya.

Arti Penting Lingkungan bagi Kehidupan

Pada dasarnya, setiap makhluk hidup memang tidak bisa hidup terpisah dari lingkungannya. Bayangkan saja bagaimana bila seekor ikan dikeluarkan dari akuarium, sungai, kolam, atau bentuk lingkungan hidupnya yang lain? Ikan tersebut akan mati bukan? Hal ini dapat terjadi karena ketiadaan unsur lingkungan yang mendukung kehidupan dari ikan tersebut.

Lingkungan menjadi hal yang sangat penting dalam menyokong kehidupan masing -masing makhluk hidup. Akan tetapi, perlu diingat bahwa tidak semua bentuk lingkungan yang ada di muka bumi ini merupakan keadaan ideal yang bisa menyokong kehidupan setiap makhluk hidup. Artinya, masing -masing makhluk hidup punya keadaan ideal lingkungannya masing -masing agar bisa bertahan hidup.

Makhluk hidup perlu untuk beradaptasai atau menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan yang ada di sekitarnya. Jika tidak bisa beradaptasi, maka ia pun bisa terancam mati. Seperti ikan yang tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan tanpa air, maka ia akan mati.

Contoh lain, manusia yang tinggal di daerah kutub atau pegunungan yang dingin, ia harus beradaptasi dengan menggunakan pakaian tebal sehingga bisa bertahan dari hawa dingin. Onta yang hidup di daerah padang pasir, juga harus mampu beradaptasi dengan ketahanan untuk tidak minum selama berhari -hari.

Bentuk adaptasi bagi manusia ini dapat berupa interaksi yang kompleks dengan sesama manusia dan unsur lingkungan lain di sekitarnya. Berbagai bentuk interaksi ini dapat disebut sebagai budaya.

Budaya -budaya yang dihasilkan ini dapat berupa bentuk rumah, model pakaian, pola mata pencaharian, dan pola kehidupan harian yang lainnya.

Manusia yang memiliki cipta, rasa dan karsa menjadikannya tidak hanya dapat menyesuaikan diri melainkan juga dapat memanfaatkan potensi lingkungan untuk lebih mengembangkan kualitas kehidupannya.

Bagi manusia, selain sebagai tempat tinggal, lingkungan hidup juga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan lain, seperti :


  1. Media penghasil bahan kebutuhan pokok (sandang, pangan, dan papan)
  2. Wahana untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan makhluk hidup atau manusia lain.
  3. Sebagai sumber energi.
  4. Sebagai sumber bahan mineral yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kelangsungan hidup manusia.
  5. Media ekosistem dan pelestarian flora serta fauna dan juga sumber alam lain yang dapat dilindungi untuk dilestarikan.

Etika Bisnis dan Sanksi Hukum dalam Perjanjian

Dalam praktik bisnis, kerjasama adalah suatu hal yang lazim terjadi. Ketika melakukan kerjasama bisnis, maka hal utama yang dibutuhkan adalah melakukan perjanjian atau perikatan. Perjanjian atau perikatan dalam kerjasama yang sudah disepakati ini tentunya harus dipatuhi berdasarkan ketentuan yang tertera dalam perjanjian disertai adanya etika bisnis.


Etika Bisnis

Sayangnya, praktik bisnis yang biasa terjadi terkadang masih cenderung mengabaikan etika dan rasa keadilan. Bahkan, praktik bisnis kerapkali diwarnai hal -hal tidak terpuji atau moral hazard. Hal seperti ini tentu perlu dihindari dan diantisipasi. Karenanya, perlu adanya pemahaman mendalam mengenai implementasi dari etika bisnis yang selaras bagi para pelaku usaha, terutama yang sesuai dengan prinsip ekonomi.

Etika dalam berbisnis adalah hal penting. Dalam konsep “Etika Bisnis”, maka ada dua variabel yang perlu kita pahami. Pertama, Etika yang merupakan seperangkat kesepakatan umum yang berguna untuk mengatur hubungan antar orang per orang atau orang per orang dengan masyarakat, atau masyarakat dengan masyarakat lainnya.

Tingkah laku manusia dalam berhubungan perlu diatur sedemikian rupa, sehingga tidak saling merugikan bagi siapa pun, dalam hidup bermasyarakat. Etika ini lalu dituangkan dalam bentuk tertulis, sehingga lahirlah kebijakan yang berupa peraturan, hukum, undang -undang dan lainnya.

Selain etika yang tertulis, ada juga etika tidak tertulis yang hanya berupa kesepakatan umum dalam masyarakat atau pada kelompok masyarakat saja. Kesepakatan umum yang tidak tertulis ini biasa dikenal sebagai etiket, sopan santun dan sejenisnya.

Pada dasarnya, semua kelompok masyarakat atau bentukan masyarakat apa pun selalu memiliki perangkat aturan, baik aturan yang tertulis maupun tidak tertulis. Perangkat aturan ini dibuat dengan tujuan agar dapat menjamin keberlangsungan hubungan antar anggota masyarakatnya sehingga terjalin dengan baik.

Hal yang sama pun terjadi dahal dunia bisnis. Di dunia bisnis, ada juga seperangkat aturan yang mengatur relasi antar pelaku bisnis. Perangkat aturan ini diperlukan agar relasi bisnis yang terjadlin bisa berlangsung dengan baik dan “fair”.

Perangkat aturan yang dibuat ini mengatur secara internal dalam dunia bisnis, mengenai bagaimana melakukan bisnis, dan berhubungan dengan sesama para pelaku bisnis. Perangkat aturan bisnis ini bisa berupa undang -undang, peraturan pemerintah, keputusan presiden, dan lainnya, termasuk perjanjian yang disepakati bersama antar para pelaku bisnis.

Dalam hubungan bisnis, seringkali diperlukan kesepakatan tersendiri antar pihak -pihak tertentu yang melakukan kerjasama. Sebab, apa yang disepakati masih belum tertulis secara jelas dalam perangkat aturan yang sudah ada. Dalam hal seperti inilah, perjanjian atau perikatan menjadi hal penting dalam hubungan bisnis.

Ketika para pihak sudah menyepakati perjanjian tertentu, maka isi dari perjanjian tersebut menjadi aturan yang mengikat dan harus dipatuhi oleh pihak -pihak yang menyepakatinya.

Sanksi Hukum dalam Perjanjian

Dengan terjadinya suatu perikatan, artinya para pihak yang terlibat telah terikat oleh suatu hubungan yang berupa hubungan hukum. Akibatnya, para pihak tersebut berkewajiban untuk melaksanakan prestasi (ketentuan) seperti yang telah disepakati dalam perjanjian.

Apabila prestasi tersebut, seperti yang dimaksud dalam perjanjian tidak dipatuhi, maka ia dapat dikatakan telah melakukan ingkar janji, cidra janji, lalai, atau wanprestasi. Ketika hal ini terjadi, maka dapat diberlakukan sanksi hukum terhadap pihak yang melanggar perjanjian tersebut.

1) Ingkar Janji (wan prestasi)

Ingkar janji juga disebut sebagai wan prestasi. Seseorang dapat dikatakan ingkar janji (wanprestasi) apabila ia tidak melaksanakan kewajibannya sesuai yang disepakati, namun bukan karena suatu keadaan memaksa.

Ingkar janji ada tiga bentuk. Bentuk ingkar janji, yaitu;
  • Tidak memenuhi prestasi sama sekali
  • Terlambat memenuhi prestasi
  • Memenuhi prestasi, akan tetapi secara tidak baik

Sebagai akibat dari adanya wanprestasi atau ingkar janji, maka pihak lain yang dirugikan dapat menuntut pihak yang melakukan wanprestasi dalam bentuk tuntutan pemenuhan perikatan, seperti :
- pemenuhan perikatan dengan ganti rugi
- ganti rugi
- pembatalan perjanjian timbal balik
- pembatalan dengan ganti rugi

2) Penetapan Lalai (somasi)

Penetapan lalai juga disebut sebagai somasi. Seseorang dapat dinyatakan ingkar janji, sesuai peraturan undang -undang, yakni ketika dilakukannya somasi atau penetapan lalai oleh pihak yang dirugikan.

Somasi adalah suatu bentuk teguran atau peringatan yang diberikan oleh satu pihak kepada pihak lain akan adanya indikasi suatu pelanggaran hukum. Penatapan lalai pada dasarnya harus dilakukan secara tertulis. Akan tetapi, saat ini sudah hal yang lazim jika somasi dilakukan secara lisan, asalkan somasi atau teguran atau peringatan tersebut dinyatakan secara tegas.

Penetapan lalai (somasi) ini merupakan syarat untuk menetapkan terjadinya ingkar janji. Tapi, ada jalan bagi pihak yang disomasi untuk terbebas dari sanksi. Yakni dengan membuktikan bahwa ketidakmampuannya dalam memenuhi kewajibannya tersebut bukan karena hal yang disengaja atau lalai, melainkan karena keadaan yang memaksa.

3) Risiko dalam Perikatan
Di dalam suatu perikatan, risiko adalah suatu hal yang selalu menyertai. Risiko ini adalah kewajiban untuk memikul kerugian yang disebabkan oleh suatu kejadian atau perisitiwa yang terjadi di luar kesalahan salah seorang pihak.

Untuk dapat memecahkan masalah tersebut, maka harus diperhatikan terlebih dahulu apakah perjanjian yang diadakan tersebut merupakan perjanjian sepihak atau perjanjian timbal balik. Apabila merupakan perjanjian sepihak, maka risiko harus dipikul oleh pihak yang akan menerima benda.

Akan tetapi bila perjanjian yang dibuat adalah perjanjian timbal balik, maka risiko tetap dipikul oleh pihak yang memiliki barang.

3 Cara Reproduksi Bakteri

Bakteri termasuk golongan makhluk hidup yang juga memerlukan perkembangbiakan atau proses reproduksi untuk melestarikan jenisnya. Dalam proses pertumbuhan bakteri, ada juga beberapa faktor yang mempengarhuinya, antara lain: suhu, kelembaban, cahaya matahari, zat kimia, ketersediaan cadangan makanan dan zat sisa metabolisme.


Perkembangbiakan atau reproduksi bakteri ini dapat dilakukan dengan cara aseksual maupun seksual. Reproduksi bakteri secara aseksual dilakukan dengan cara membelah diri secara biner. Pada kondisi yang sesuai, bakteri dapat membelah dengan sangat cepat, yaitu antara 15 – 20 menit. Dengan kondisi tersebut, dalam waktu satu hari saja, jumlah bakteri sudah bisa menjadi jutaan.

Selain dengan reproduksi aseksual melalui pembelahan biner, bakteri juga dapat berkembangbiak secara seksual. Cara reproduksi seksual bakteri berbeda dengan perkembangbiakan organisme eukariota, karenanya ada pula yang menyebut proses reproduksi bakteri ini sebagai paraseksual.

Yakni, bukan melalui proses peleburan gamet jantan dan gamet betina, tetapi berupa pertukaran materi genetik yang disebut dengan rekombinasi genetik. Pada proses ini, ADN yang terbentuk dari hasil rekombinasi kedua gen tersebut dinamakan gen rekombinan. 

Rekombinasi genetik dalam cara reproduksi bakteri ini dibedakan menjadi tiga, yakni: transformasi, transduksi, dan konjugasi. Penjelasannya sebagai berikut ya :


Baca juga: Pengertian dan Akibat Revolusi Bumi


1. Transformasi

Pada proses transformasi dalam cara reproduksi bakteri ini, fragmen ADN bebas dari bakteri dimasukkan ke dalam sel bakteri resepien (penerima). Selanjutnya, fragmen ADN ini bersatu dengan genom resepien. 




Dalam proses ini, hanya strain-strain kompeten (“Competent”) dari genera-genera bakteri tertentu saja yang bisa ditransformasikan. Strain kompeten merupakan suatu sel bakteri yang dapat mengambil suatu molekul ADN dan mentransformasikannya. Misalnya saja pada Strep­tococcus pneumonia, Bacillus, Haemopphilus, Neisseria dan Pseudomonas.

Mekanisme transformasi bakteri dimulai dari ADN donor ditarik oleh sel resepien, kemudian ADN donor terpisah menjadi dua, ADN resepien sebagian lepas meninggalkan tempatnya, lalu ADN donor menggantikan tempat ADN resepien yang ditinggalkannya tersebut.

Kemudian terbentuklah ADN rekombinan hasil hibrid antara ADN do­nor dengan ADN resepien. Selanjutnya, ADN rekombinan melakukan replikasi untuk berkembang biak.

Proses transformasi ini pertama kali diungkapkan oleh Frederick Griffith. Dengan ditemukannya transformasi pada bakteri ini, maka dapat dibuktikan bahwa ADN merupakan bahan genetik. Penemuan ini kemudian menjadi kunci dalam biologi molekul dan genetika modern.

Baca juga: Perbedaan Pembelahaan Mitosis dan Meiosis


2. Transduksi

Proses reproduksi berupa transduksi pada bakteri diketemukan oleh Norton Zinder dan Joshua Lederberg di tahun 1952. Cara reproduksi bakteri ini tidak melalui kontak langsung antara dua bakteri, melainkan diperlukan adanya materi sebagai perantara yaitu virus yang hidup pada inang bakteri (Bacteriofage).


3. Konjugasi

Reproduksi bakteri pada proses konjugasi diperlukan kontak langsung antara sel donor dengan sel resepien agar dapat terjadi pemindahan bahan genetik. Pada proses konjugasi ini dapat dipindahkan bahan genetik yang lebih panjang. 

Kemampuan untuk bertindak sebagai donor atau resepien ini ditentukan oleh materi genetik yang disebut sebagai faktor kelamin (“faktor seks”) atau faktor F. Sel resepien dinyatakan dengan F. Proses konjugasi seperti ini hanya dapat ditunjukkan pada bakteri Gram negatip, misalnya: Escheri-chia, Shigella, Salmonella, Pseudomonas aeruginea.

Pengertian, Contoh dan 22 Jenis Konjungsi Lengkap

Dalam membuat kalimat Bahasa Indonesia, ada banyak hal yang perlu diperhatikan. Hal tersebut meliputi ejaan yang disempurnakan, kaidah penyusunan kalimat dan juga konjungsi. Untuk dapat membuat kalimat yang baik, efektif dan mudah dipahami, maka kita perlu menguasai konjungsi dan juga fungsi konjungsi ini.

Pengertian konjungsi

Apa itu konjungsi? Sederhananya, pengertian konjungsi adalah kata penghubung atau disebut juga kata sambung. Kata penghubung merupakan kata tugas yang berfungsi untuk menghubungkan antar klausa, antar kalimat, dan antar paragraf.

Kata penghubung antarklausa umumnya terletak di tengah -tengah kalimat. Untuk kata penghubung antarkalimat, biasanya terletak di awal kalimat, setelah tanda titik, tanda tanya, dan tanda seru. Sementata kata penghubung antarparagraf, diletakkan di awal paragraf.

Dalam pelajaran bahasa Indonesia, konjungsi dapat dikelompokkan ke dalam dua bentuk yakni konjungsi intra kalimat dan konjungsi antar kalimat.

Kata penghubung intrakalimat disebut juga kata penghubung antar klausa, yang merupakan kata yang menghubungkan klausa  induk dan klausa anak. Pada konjungsi intrakalimat atau antar klausa ini, terdapat 2 jenis kata penghubung atau konjungsi, yakni konjungsi koordinatif dan konjungsi subordinatif.

Konjungsi antar kalimat merupakan kata yang menghubungkan kata yang satu dengan kata yang lainnya, yang berada dalam kalimat berbeda. Agar lebih jelas, mari kita simak penjelasan mengenai konjungsi intra dan antar kalimat.

Jenis Jenis Konjungsi, Fungsi dan Contoh Konjungsi

KONJUNGSI INTRA KALIMAT

Konjungsi intra kalimat atau antar klausa adalah kata yang menghubungkan klausa induk dan klausa anak. Umumnya, kata penghubung antar klausa ini diletakkan di tengah-tengah kalimat. Di dalam intra kalimat (antar klausa), terdapat dua jenis kata penghubung atau konjugsi, yakni konjungsi koordinatif dan konjungsi subordinatif, Berikut penjelasannya :

1. Konjungsi Koordinatif
Konjugsi Koordinatif adalah kata penghubung yang menghubungkan dua klausa atau lebih yang mempunyai status sederajat. Contoh konjungsi koordinatif yakni : dan, tetapi, atau, sedangkan, melainkan, padahal, lalu, kemudian.

2. Konjungsi Subordinatif
Konjugsi Subordinatif adalah kata penghubung yang menghubungkan dua klausa atau lebih dengan status yang tidak sama derajatnya, diantaranya : ketika, sejak, biar, seperti, setelah, jika, andai, kalau, supaya, bagai, ibarat, sehingga, karena.

Jenis -jenis konjungsi subordinatif ada beberapa, berikut jenis konjungsi subordinatif dan contohnya.

Hubungan waktu     
Contoh : Sesudah, sementara, sebelum, ketika, sehabis, setelah, sehingga, sejak, selesai, tatkala, sambil, seraya, selagi, selama, sampai

Hubungan syarat
Contoh : Jika, jikalau, kalau, asal, bila, asalkan manakala

Hubungan pengandaian
Contoh : Andaikan, seandainya, sekiranya, seumpamanya

Hubungan tujuan
Contoh : Agar, supaya, biar,

Hubungan konsesif
Contoh : Biarpun, meskipun, walaupun, sekalipun, walau, sunguhpun, kendatipun

Hubungan pemiripan
Contoh : Seakan-akan, sebagaimana, seolah-olah, seperti, sebagai, bagaikan, laksana

Hubungan penyebaban
Contoh : Sebab, oleh karena, karena

Hubungan pengakibatan     
Contoh : Sehingga, sampai, sampai -sampai, maka, makanya, karenanya,

Hubungan penjelasan          
Contoh : Bahwa

Hubungan cara
Contoh : Dengan, melalui

KONJUNGSI ANTAR KALIMAT

Konjungsi antar kalimat merupakan kata penghubung yang menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat yang lainnya. Konjungsi antar kalimat ini digunakan untuk menyatakan makna yang berbeda-beda. Contoh konjungsi antar kalimat diantaranya : oleh karena itu, namun, sebelum itu, akan tetapi, dengan demikian, kecuali itu, selain itu, sesudah itu, sebaliknya.

Konjungsi antar kalimat biasa diletakkan di awal kalimat, atau setelah tanda titik, tanda seru, atau tanda tanya. Berikut adalah contoh konjungsi antarkalimat, beserta maknanya :

1. Biarpun demikian, biarpun begitu, sekalipun demikian, sekalipun begitu, walaupun demikian, walaupun begitu, meskipun demikian, meskipun begitu
Makna : untuk menyatakan kesediaan melakukan sesuatu yang berbeda atau bertentangan dengan yang dinyatakan pada kalimat sebelumnya.

2. Kemudian, setelah itu, sesudah itu, selanjutnya    
Makna : Menyatakan kelanjutan dari suatu peristiwa atau keadaan yang diterangkan pada kalimat sebelumnya.

3. Tambahan pula, selain itu, lagi pula
Makna : Menyatakan adanya hal, peristiwa, atau keadaan lain di luar dari yang telah dinyatakan sebelumnya.

4. Sebaliknya  
Makna : Mengacu pada kebalikan dari yang dinyatakan sebelumnya.

5. Sesungguhnya, bahwasanya
Makna : Menyatakan keadaan yang sebenarnya.

6. Malah, malahan, bahkan
Makna : Menguatkan keadaan yang dinyatakan sebelumnya

7. Akan tetapi, tetapi, namun, kecuali itu
Makna : Menyatakan keadaan pertentangan dengan keadaan sebelumnya

8. Dengan demikian   
Makna : Menyatakan konsekuensi

9. Oleh karena itu, oleh sebab itu
Makna : Menyatakan akibat

10. Sebelum itu
Makna : Menyatakan kejadian yang mendahului hal yang dinyatakan sebelumnya

Macam - macam Konjungsi Berdasarkan Fungsi

1. Konjungsi Aditif (gabungan)
Konjungsi aditif (gabungan) merupakan konjungsi koordinatif yang fungsinya untuk menggabungkan dua kata, frasa, klausa, atau kalimat yang mempunyai kedudukan yang sederajat. Contoh : dan, lagi pula, lagi, dan serta.

2. Konjungsi Pertentangan
Konjungsi pertentangan adalah bentuk konjungsi koordinatif yang menghubungkan dua bagian kalimat yang sederajat, namun dengan mempertentangkan kedua bagian tersebut. Umumnya, bagian yang kedua menduduki posisi yang lebih penting daripada bagian pertama. Contoh : tetapi, melainkan, sedangkan, akan tetapi, padahal, sebaliknya, dan namun.

3. Konjungsi Disjungtif (pilihan)
Konjungsi pilihan adalah bentuk konjungsi koordinatif yang menghubungkan dua unsur yang sederajat yang berfungsi untuk memilih salah satu dari dua hal atau lebih. Contoh : atau, atau....atau, maupun, baik...baik..., dan entah...entah...

4. Konjungsi waktu
Konjungsi waktu berfungsi untuk menjelaskan hubungan waktu antara dua hal atau peristiwa. Kata-kata konjungsi yang bersifat temporal ini dapat menjelaskan hubungan yang tidak sederajat atau pun sederajat. Contoh konjungsi waktu yang menghubungkan kalimat tidak sederajat : apabila, bilamana, hingga, sejak, selama, sementara, ketika, bila, sambil, sebelum, sampai, demi, sedari, seraya, waktu, setelah, semenjak, sesudah, dan tatkala. Contoh konjungsi waktu yang menghubungkan dua bagian kalimat yang sederajat : sebelumnya dan sesudahnya

5. Konjungsi Final (tujuan)
Konjungsi tujuan atau konjungsi final ini semacam konjungsi modalitas yang menjelaskan maksud dan tujuan suatu peristiwa, atau tindakan. Kata-kata yang umumnya digunakan untuk menyatakan hubungan ini adalah: guna, untuk,supaya, dan agar.

6. Konjungsi Sebab (kausal)
Konjungsi sebab atau kausal menjelaskan bahwa suatu peristiwa terjadi karena suatu sebab tertentu. Bila anak kalimat ditandai dengan konjungsi sebab, maka induk kalimat merupakan akibatnya. Kata-kata yang digunakan untuk menyatakan hubungan sebab ini meliputi : sebab, karena, sebab itu, dan karena itu.

7. Konjungsi Akibat (konsekutif)
Konjungsi akibat menjelaskan bahwa suatu peristiwa terjadi akibat suatu hal yang lain. Dalam hal ini anak kalimat ditandai konjungsi yang menyatakan akibat, sedangkan peristiwanya dinyatakan dalam induk kalimat. Kata-kata yang dipakai untuk menandai konjungsi akibat adalah sehingga, sampai, dan akibatnya.

8. Konjungsi Syarat (kondisional)
Konjungsi syarat atau kondisional menjelaskan bahwa suatu hal dapat terjadi ketika syarat -syarat yang disebutkan itu dipenuhi. Kata kata yang menyatakan hubungan ini adalah jika, jikalau, apabila, kalau, asalkan, dan bilamana.

9. Konjungsi Tak Bersyarat
Kata penghubung tak bersyarat ini menjelaskan bahwa suatu hal dapat terjadi tanpa perlu ada syarat - syarat yang harus dipenuhi. Contoh kata - kata yang termasuk dalam konjungsi tak bersyarat meliputi : walaupun, meskipun, dan biarpun.

10. Konjungsi Perbandingan
Konjungsi perbandingan ini berfungsi untuk menghubungkan dua hal dengan cara membandingkan kedua hal tersebut. Kata kata yang sering digunakan sebagai konjungsi perbandingan meliputi : sebagai, seperti, bagaikan, sebagaimana, seakan-akan, bagai, ibarat, umpama, dan daripada.

11. Konjungsi Korelatif
Konjungsi korelatif menghubungkan dua bagian kalimat yang memiliki hubungan sedemikian rupa sehingga yang satu langsung mempengaruhi yang lain atau kalimat yang satu melengkapi kalimat lain. Konjungsi korelatif ini dapat juga digunakan pada kalimat yang memiliki hubungan timbal-balik. Contoh konjungsi korelatif : semakin …..semakin, sedemikian rupa..., kian….. kian, bertambah……bertambah, sehingga..., tidak hanya….tetapi juga..., baik..., dan maupun.

12. Konjungsi Penegas (menguatkan atau intensifikasi)
Konjungsi penegas berfungsi untuk menegaskan atau meringkas bagian kalimat yang telah disebutkan sebelumnya, termasuk hal-hal yang menyatakan rincian. Contoh konjungsi penegas adalah : bahkan, apalagi, yaitu, yakni, misalnya, umpama, ringkasnya, dan akhirnya.
13. Konjungsi Penjelas (penetap)
Konjungsi penjelas atau penetap berfungsi untuk menghubungkan bagian kalimat terdahulu dengan perinciannya. Contoh konjungsi penjelas : bahwa.

14. Konjungsi Pembenaran (konsesif)
Konjungsi pembenaran adalah konjungsi subordinatif yang menghubungkan dua hal dengan cara membenarkan atau mengakui suatu hal, sekaligus dengan menolak hal yang lain yang ditandai oleh konjungsi tadi. Pembenaran ini dinyatakan dalam klausa utama (induk kalimat), sementara penolakannya dinyatakan dalam anak kalimat yang didahului oleh konjungsi seperti, walaupun, meskipun, biar, sungguhpun, biarpun, kendatipun, dan sekalipun.

15. Konjungsi Urutan
Konjungsi urutan menyatakan urutan akan sesuatu hal. Contoh konjungsi urutan : mula-mula, lalu, dan kemudian.

16. Konjungsi Pembatasan
Konjungsi pembatasan menyatakan pembatasan terhadap sesuatu hal atau dalam batas-batas mana perbuatan dapat dikerjakan. Contoh konjungsi pembatasn , misalnya kecuali, selain, dan asal.

17. Konjungsi Penanda
Konjungsi penanda menyatakan penandaan terhadap sesuatu hal. Contoh konjungsi penanda : misalnya, umpama, contohnya. Ada pula konjungsi penanda pengutamaan, yang contohnya seperti : pokok, paling utama, dan terutama.

18. Konjungsi Situasi
Konjungsi situasi ini menjelaskan suatu perbuatan yang terjadi atau berlangsung dalam keadaan tertentu. Contoh konjungsi situasi : sedang, padahal, sedangkan, dan sambil.



Demikian artikel mengenai jenis, fungsi, dan contoh konjungsi, jangan lupa kunjungi terus porosilmu.com untuk mendapat materi pelajaran sekolah. Terima kasih.

Arti Kebijakan Moneter dan Tujuan Kebijakan Moneter

Kamu mungkin sering mendengar kata ‘moneter’ dan kebijakan moneter. Tapi, sudah pahamkah kamu apa yang dimaksud dengan kebijakan moneter? Kebijakan moneter merupakan suatu kebijakan yang diambil oleh pemerintah yang berhubungan dengan pengaturan jumlah peredaran uang di suatu negara dengan tujuan untuk mengendalikan ekonomi negara tersebut.

Apakah cukup jelas pengertian kebijakan moneter di atas? Kalau belum, mari kita lihat pada ilustrasi yang ada di Indonesia. Kita tahu bahwa ada banyak barang yang diproduksi di Indonesia. Tentu barang-barang hasil produksi ini harus dijual bukan?

Untuk dapat membelinya, kita butuh uang. Tapi, bagaimana kalau pemerintah Indonesia hanya mencetak uang dalam jumlah yang sangat sedikit? Kalau jumlah uang yang beredar hanya sedikit, masyarakat pun akan kesulitan untuk membeli produk karena alat tukar utama yang digunakan adalah uang.

Jika demikian, konsumen tidak bisa membeli produk dan artinya para produsen kesulitan untuk menjual barang dan jasa mereka. Jumlah peredaran uang yang sangat sedikit dan tidak seimbang dengan jumlah barang dan jasa yang ada ini akan membuat perekonomian negara tidak stabil.

Para produsen yang kesulitan menjual barang akan berhenti berproduksi atau mengurangi jumlah produksinya. Artinya, ekonomi negara akan lesu. Minimnya persediaan uang akan berdampak pada kegiatan ekonomi dan menjadikannya sulit bergerak.

Kondisi ini disebut dengan kondisi deflasi, yakni ketika jumlah uang yang beredar lebih sedikit dibandingkan jumlah barang dan jasa yang ada. Karenanya, untuk mengatasi kondisi deflasi, pemerintah perlu menambah jumlah uang yang beredar.

Pemerintah bisa melakukannya dengan cara mencetak uang baru atau dengan menurunkan suku bunga bank. Hal ini harus dilakukan oleh pemerintah sebagai lembaga negara yang bertanggung jawab dan berhak untuk melakukannya.

Sebaliknya, ketika jumlah uang yang beredar terlalu banyak dibandingkan dengan jumlah barang dan jasa yang ada. Maka hal ini akan menyebabkan melambungnya harga barang dan jasa. Kondisi ini lah yang disebut sebagai inflasi ( untuk penjelasan lebih lengkap baca: Pengertian dan Penyebab Inflasi ) dan tentu saja juga tidak baik bagi perekonomian suatu negara.

Karenanya, untuk mengatasi inflasi pemerintah perlu mengurangi jumlah uang yang beredar. Pemerintah bisa mengatasi inflasi dengan beberapa cara, seperti dengan menjual SBI (Sertifikasi Bank Indonesia), menaikkan suku bunga bank, atau menarik uang lama dari peredaran.

Tindakan-tindakan yang dilakukan pemerintah untuk menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar inilah yang dimaksud dengan kebijakan moneter. Kebijakan moneter ini dilakukan oleh pemerintah melalui Bank Sentral sebagai lembaga kepercayaan pemerintah.

Oleh karena itu, dapat ditarik kembali kesimpulan mengenai definisi kebijakan moneter sebagai kebijakan pemerintah melalui bank sentral untuk menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar dalam rangka mengendalikan perekonomian negara. ( Baca juga: Teori Perdagangan Internasional )

Di Indonesia, kedudukan bank sentral ini dipegang oleh Bank Indonesia (BI).

Arti Kebijakan Moneter dan Tujuan Kebijakan Moneter

Tujuan Kebijakan Moneter

Ada beberapa manfaat atau tujuan dari diberlakukannya kebijakan moneter oleh pemerintah. Tujuan dari kebijakan moneter meliputi :

a. Untuk Menjaga Stabilitas Ekonomi
Stabilitas ekonomi suatu negara akan terganggu ketika jumlah uang yang beredar di masyarakat melebihi jumlah barang dan jasa yang tersedia. Seperti yang telah disebut di atas, hal ini menyebabkan terjadinya inflasi (harga barang dan jasa naik tinggi).

Selain itu, stabilitas ekonomi juga dapat terganggu ketika jumlah uang yang beredar lebih sedikit dari jumlah barang dan jasa. Kondisi ini menyebabkan terjadinya deflasi (kelesuan ekonomi).

Pada kondisi seperti inilah, kebijakan moneter sangat diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi. kebijakan moneter harus selalu dapat mengupayakan jumlah uang yang beredar seimbang dengan jumlah barang dan jasa yang tersedia.

b. Untuk Menjaga Stabilitas Harga
Tinggi rendahnya harga barang dan jasa yang beredar di pasar sangat memengaruhi jalannya perekonomian. Harga-harga yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan turunnya permintaan. Turunnya permintaan ini pun dapat menurunkan produktivitas dunia usaha.

Oleh karena itu, untuk menjaga stabilitas harga, pemerintah perlu menggunakan kebijakan moneter. Cara ini dapat dilakukan dengan mengurangi jumlah uang yang beredar, jika harga terlalu tinggi. Dan, jika harga terlalu rendah, pemerintah harus menambah jumlah uang yang beredar.

c. Untuk Meningkatkan Kesempatan Kerja
Dengan mengatur jumlah uang yang beredar, maka perekonomian negara dapat stabil. Jika perekonomian stabil, para pengusaha atau investor akan menambah investasi baru. Investasi ini berperan untuk membuka lapangan kerja baru sehingga kesempatan kerja dapat ditingkatkan.

d. Untuk Memperbaiki Posisi Neraca Perdagangan dan Neraca Pembayaran
Kebijakan moneter dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki posisi neraca perdagangan sehingga negara tidak terlalu banyak mengalami defisit. Jika memungkinkan, neraca perdagangan ini posisinya menjadi seimbang atau bahkan surplus.

Salah satunya dapat dilakukan dengan melakukan devaluasi, yakni menurunkan nilai mata uang negara sendiri terhadap mata uang asing. Melalui kebijakan devaluasi, harga barang-barang dalam negeri menjadi lebih murah, apabila dibeli dengan mata uang asing.

Akibatnya, hal ini dapat mendorong meningkatnya jumlah ekspor. Jika ekspor terus meningkat, maka posisi neraca perdagangan sekaligus neraca pembayaran dapat diperbaiki. Paling tidak, jika ada defisit, maka defisit dapat dikurangi atau kalau bisa seimbang, atau bahkan surplus.

Prinsip Komunikasi Efektif REACH

Komunikasi adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari -hari. Komunikasi berperan sangat besar dalam pola hubungan antar manusia dalam berbagai aspek, termasuk dalam aspek kerja atau pun aspek bisnis.

Bagi seorang sekretaris atau pun seorang public relation yang sehari -harinya berhubungan dengan orang lain, maka komunikasi ini pun jadi hal yang semakin penting untuk diperhatikan. Artinya, diperlukan suatu kecapakan tersendiri dalam hal berkomunikasi.


Meski kita sudah terbiasa untuk melakukan komunikasi sedari kecil, tapi belum tentu kita bisa benar -benar mahir dalam melakukan komunikasi dengan efektif. Padahal, melakukan komunikasi yang efektif ini sangat penting untuk menentukan tepat tidaknya komunikasi yang dilakukan.

Dengan melakukan komuniksai yang tepat dan mendalam, maka makna yang disampaikan dalam komunikasi juga bisa tersampaikan dengan baik dan efektif. Untuk melakukan komunikasi efektif, ada prinsip dasar yang perlu diperhatikan.

Prinsip dasar komunikasi yang bisa digunakan misalnya adalah prinsip REACH atau Respect, Empathy, Audible, Clarity, Humble. Dengan melakukan prinsip komunikasi efektif REACH ini, maka kita dapat mencapai perhatian, minat, kepedulian, citna kasih, simpati, tanggapan maupun respon yang positif.

Melakukan prinsip komunikasi efektif ini akan semakin penting bagi mereka yang pekerjaannya banyak berhubungan dengan orang lain, seperti sekretaris, resepsionis, humas, dan lainnya. Untuk itu, penting bagi mereka memahami prinsip komunikasi efektif seperti REACH berikut ini.

#1 Respect - Menghargai
Dalam melakukan komunikasi dengan orang lain, rasa hormat dan saling menghargai adalah prinsip yang utama. Kita harus selalu ingat bahwa pada prinsipnya, setiap manusia ingin untuk dihargai dan dianggap penting. Karenanya, semisal kita harus menegur atau memarahi seseorang, hendaknya dilakukan denan penuh respek terhadap harga diri dan kebanggaan orang tersebut.

Komunikasi yang dibangun dengan rasa dan sikap saling menghargai dan menghormati akan dapat membangun kerjasama yang menghasilkan sinergi baik. Artinya, ini juga dapat meningkatkan efektifivitas kinerja, baik sebagai individu maupun secara keseluruhan dalam sebuah tim.

#2 Empathy - Empati
Empati adalah suatu kemampuan seseorang dalam menempatkan diri pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Untuk bisa memiliki sikap empati, maka syarat utamanya adalah kita harus mampu mendengarkan atau mengerti terlebih dahulu, sebelum kita meminta untuk didengarkanatau dimengerti oleh orang lain.

Menurut Covey, kemampuan untuk mendengarkan adalah satu dari 7 kebiasaan manusia yang sangat efektif, yang disebutnya sebagai suatu bentuk komunikasi empatik. Dengan upaya mendengarkan orang lain dan memahaminya terlebih dahulu, maka kita bisa membangun ketebukaan dan kepercayaan yang dibutuhkan dalam membangun kerjasama atau sinergi dengan orang lain.
#3 Audible - Dapat dipahami
Maksud dari audible ini adlaah dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik. Pada konsep empati, kita yang harus terlebih dahulu memahami, mendengar atau pun menerima umpan balik dengan baik. Sementara pada audible ini bisa dibilang sebaliknya. Yakni, apakah pesan yang kita sampaikan pada penerima pesan dapat diterima dengan baik.

Pesan yang kita sampaikan harus melalui media sedemikian rupa sehingga penerima pesan bisa menerimanya dengan baik. Prinsip ini mengacu pada kemampuan untuk menggunakan berbagai media maupun perlengkapan atau alat bantu audio visual yang ada untuk membantu agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik.

#4 Clarity - Jelas
Kejelasan dari pesan yang disampaikan adalah prinsip keempat yang juga harus diperhatikan. Pesan yang disampaikan secara jelas dapat menghindari adanya multi interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan dari suatu pesan tertentu. Sebab, terjadinya kesalahan penafsiran atau pesan yang dapat menimbulkan berbagai penafsiran dapat mengakibatkan dampak yang negatif.

Clarity ini jug adapt diartikan sebagai sikap keterbukaan dan transparansi. Di dalam komunikasi, kita perlu untuk mengembangkan sikap terbuka atau tidak ada yang ditutupi atau disembunyikan. Dengan begitu, dapat timbul rasa percaya atau trust dari pihak penerima pesan.

Tanpa adanya kterbukaan, maka dapat timbul sikap saling curiga yang pada gilirannya membuat semangat serta antusiasme dari kelompok atau tim jadi menurun.

#5 Humble - Rendah Hati

Sikap rendah hati ini adalah unsur yang terkait erat dengan upaya untuk membangun rasa menghargai orang lain. Artinya, dengan adanya kerendahan hati ini kita juga sekaligus berusaha untuk memahami bagaimana cara menghargai ornag lain.

Jenis Jenis Hutan Berdasarkan Fungsi dan Lainnya

Bagi bumi, hutan adalah hal yang amat penting. Kita tentu pernah mendengar bahwa hutan adalah paru paru dunia bukan? Nah, karenanya, sudah sewajarnya kalau kita selalu melestarikan hutan yang ada di muka bumi ini. Selain itu, ada baiknya kita juga lebih mengenal jenis jenis hutan yang ada di dunia.

Jenis jenis hutan ini ada banyak macam pembagiannya. Pembagian jenis jenis hutan juga didasarkan pada berbagai hal, seperti berdasarkan fungsi, jenis pohon, proses terjadi, tempat dan lainnya. Agar lebih mengenalnya, mari kita coba mempelajari jenis jenis hutan berikut ini.
Jenis Jenis Hutan

Jenis hutan menurut fungsinya

Jenis jenis hutan menurut fungsinya meliputi empat macam : hutan lindung, hutan suaka alam, hutan produksi dan hutan wisata, dengan penjelasan sebagai berikut.

- Hutan Lindung
Hutan Lindung memiliki fungsi untuk melindungi serta menjaga kelestarian tanah dan air yang terdapat pada suatu wilayah. Gundulnya pepohonan yang ada di hutan lindung dapat mengakibatkan tanah yang di sekitar hutan tersebut mudah tererosi sehingga  air hutan yang meresap dalam tanah sangat sedikit.

Jika demikian, mata air di daerah kawasan tersebut dapat menjadi kering dan permukaan air tanah pun juga lebih dalam. Artinya, wilayah tersebut akan rawan banjir. Selaiknya, tata air yang buruk juga dapat mengakibatkan banjir.

- Hutan Suaka Alam
Hutan suaka alam yang berupa kawasan hutan dengan sifat-sifat khas ini berfungsi untuk melindungi kondisi alam hayati atau jenis tumbuhan serta ekosistem juga hewan tertentu. Ada dua jenis hutan suaka alam, yaitu hutan hutan cagar alam dan hutan suaka margasatwa.

Hutan cagar alam berfungsi melindungi berbagai jenis tumbuhan, dengan kondisi alamnya yang khas agar tumbuhan dapat berkembang secara alami dalam ekosistem alaminya. Adapun hutan suaka margasatwa berfungsi untuk melindungi aneka hewan di habitan asli atau alaminya, karena kawasan hutan suaka margasatwa yang khas dan memiliki keunikan dan keanekaragaman jenis satwa.

Simak juga: Pengertian Vulkanisme (Gunung Api)

- Hutan Wisata
Hutan wisata berfungsi untuk memenuhi kebutuhan atau kepentingan masyarakat dalam hal pariwisata atau wisata baru. Hutan wisata ada beberapa, yakni berupa taman wisata, taman baru serta taman laut.

Taman wisata umumnya memiliki panorama alam khas dan tampak indah, dengan keindahan nabati, hewani dan alam yang menarik sehingga sesuai untuk dimanfaatkan dalam rangka rekreasi dan kebudayaan.

Taman Baru berfungsi untuk tujuan wisata yang khas karena memiliki aneka satwa baru yang hidup sehingga memungkinkan diselenggarakan perburuan secara teratur demi kepentingan rekreasi.

Taman Laut adalah kawasan laut atau lepas pantai di dalam batas wilayah laut Indonesia, dengan keadaan alam yang khas dan menarik, bebatuan kosong atau biota laut lain yang khas. Selaligus kondisinya memungkinkan untuk dijadikan tempat tujuan rekreasi.

- Hutan Produksi
Hutan Produksi berfungsi untuk diambil hasilnya, atau untuk menghasilkan suatu produk hutan, seperti kayu atau non kayu, industri kayu dan obat-obatan, dan sebagainya.

Jenis Hutan Berdasarkan Jenis Pohonnya

Jenis hutan berdasarkan jenis pohon yang hidup di dalamnya dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu : hutan homogen dan hutan heterogen.

- Hutan Homogen
Hutan Homogen merupakan hutan dengan tanaman yang hidup di dalamnya hanya satu jenis saja, atau seluruh tanamannya seragam. Hutan homogen umumnya berupa hutan buatan yang sengaja dibuat khusus untuk tujuan tertentu, seperti produksi, reboisasi, atau keperluan perluasan industri dan lainnya. Contoh hutan homogen bisa berupa hutan jati, hutan cemara, hutan bakau, hutan kayu putih dan hutan pinus.

- Hutan Heterogen
Hutan Heterogen adalah hutan dengan jenis tanaman yang hidup di dalamnya bervariasi, atau banyak jenisnya. Contoh hutan homogen yang paling populer adalah hutan rimba, hutan lindung, dan hutan suaka alam.

Kebanyakan hutan heterogen ditemukan di wilayah tropis yang mempunyai jumlah curah hujan tinggi, seperti di Amerika Selatan, Amerika Tengah, Afrika, Asia Tenggara dan Australia Timur Laut. Hutan -hutan heterogen ini umumnya mempunyai pepohonan yang menjuang tinggi dan berdaun lebar.

Contoh hutan heterogen di Indonesia, adalah hutan hutan yagg ada di pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Irian Jaya.

Simak juga: Siklus Hidrologi: Pengertian, Tahapan dan Macamnya

Jenis Hutan Berdasarkan Proses Terjadinya

Jenis hutan berdasarkan pada proses terjadinya atau terbentuknya, meliputi : hutan asli atau hutan alami dan hutan buatan.

- Hutan Asli atau hutan alami
Hutan asli atau hutan alami adalah hutan yang proses terjadinya secara alami, atau tanpa bantuan manusia. Contoh hutan alami adalah hutan rimba.

- Hutan Buatan
Hutan buatan adalah hutan yang terjadnya disebabkan oleh bantuan manusia karena dengan sengaja dibuat. Hutan buatan umumnya hanya terdiri dari satu jenis pohon, dan biasanya khusus untuk tujuan tertentu.

Contoh hutan buatan adalah hutan jati, hutan kayu putih dan lainnya, yang biasanya sengaja dibuat untuk tujuan produksi demi memenuhi kepentingan ekonomi.

Akan tetapi, ada juga hutan homogen yang bukan hutan buatan, yakni hutan mangrove atau hutan bakau pada umumnya, yang biasanya merupakan hutan alami. Ada juga hutan mangrove yang merupakan hutan alami, yang biasanya dibuat untuk melindungi tanah yang ada di sekitar pantai dari ombak, atau abrasi.

Jenis Hutan Berdasarkan Tempatnya

Jenis hutan berdasarkan tempatnya ada sangat banyak dan sangat mudah dikenali. Sebab, hutan -hutan ini dinamai atau disebut sesuai dengan di mana kawasan hutan tersebut berada. Umumnya, hutan -hutan seperti ini adalah hutan yang ada di wilayah tropis, yang memiliki curah hujan tinggi.

Contohnya, hutan yang tumbuh di kawasan rawa dinamai hutan rawa, hutan yang tumbuh di daerah pantai dinamai hutan pantai, hutan yang tumbuh di wilayah pegunungan dinamai hutan pegunungan dan lainnya.

Jenis Hutan Berdasarkan Iklimnya

Jenis hutan berdasarkan pada iklim terdapat berbagai jenis, seperti :

- Hutan Hujan Tropis
Hutan hujan tropis merupakan jenis hutan yang terdapat di daerah dengan iklim tropis basah dengan curah hujan tinggi sepanjang tahun. Ciri khas tumbuhan-tumbuhan yang tumbuh di wilayah hutan hujan tropis umumnya memiliki ukuran pohon tinggi, dengan daun lebar, selalu tampak hijau dan umumnya merupakan jenis pohon besar. Hutan hujan tropis biasanya kaya akan hewan Vertebrata dan Invertebrata.

Contoh hutan hujan tropis banyak terdapat di wilayah Amerika Tengah dan Selatan, wilayah Australia timur Laut, wilayah Afrika dan juga di wilayah Asia Tenggara.

- Hutan Musim Tropik
Hutan musim tropik umumnya banyak terdapat di daerah yang memiliki iklim tropis basah, dengan musim kemarau panjang. Ciri khas pepohonan yang ada di hutan musim tropis umumnya menggugurkan daunnya ketika musim kemarau. Contoh hutan musim tropik banyak ditemukan di daerah India dan Asia Tenggara, dan termasuk Indonesia.

- Hutan Hujan Iklim Sedang
Hutan hujan iklim sedang adalah jenis hutan raksasa yang terdapat di wilayah dengan iklim sedang dengan curah hujan yang tinggi. Hutan hujan iklim sedang di wilayah Australia dan di sepanjang pantai Pasifik Amerika Utara serta California sampai ke negara bagian Washington. Hutan hujan iklim sedang yang terdapat di wilayah Australia diketahui sebagai hutan dengan pohon-pohon tertinggi di dunia.

- Hutan Pegunungan Tropik
Hutan Pegunungan Tropik memiliki ciri khas yang menyerupai hutan hujan iklim sedang. Bedanya, hutan ini memiliki struktur dan karakteristik yang berbeda di letaknya, karena hutan ini berada di wilayah pegunungan yang ada di daerah tropis.

Simak juga: Pengertian, Lapisan dan Manfaat Atmosfer

- Hutan Hujan Iklim Sedang yang selalu hijau
Hutan hujan iklim sedang memiliki ciri khas dengan warna yang selalu hijau. Hutan ini dapat ditemukan di wilayah yang memiliki iklim sedang. Kita bisa menemukan hutan jenis ini di kawasan Amerika Serikat dan Eropa yang memiliki iklim kontinen.

- Hutan Gugur Iklim Sedang
Hutan Gugur Iklim Sedang adalah hutan yang biasa terdapat di daerah dengan iklim kontinen sedang, namun agak basah dengan musim hujan yang berlangsung ketika musim panas, dan  musim dingin yang biasanya berlangsung keras.

Pohon-pohon yang mendominasi hutan gugur iklim sedang berupa pohon-pohon berdaun lebar yang menggugurkan daunnya pada musim dingin. Hutan ini banyak terdapat di dearah Amerika Serikat, Amerika Tengah, Asia Timur, Chile, dan Eropa.

- Taiga
Taiga adalah hutan yang memiliki tumbuhan berupa aneka jenis conifer. Hutan ini banyak terdapat di wilayah terdingin yang ada di iklim hutan. Taiga terbesar terdapat di wilayah Amerika Utara, Eropa dan Asia.

- Hutan Lumut
Hutan lumut adalah komunitas pegunungan tropik dengan ciri khas adanya struktur lumut dan banyak ditemukan pada wilayah dengan ketinggian sekitar 2500 meter atau lebih. Ciri khas hutan lumut adalah pohon-pohonnya yang pendek, atau bahkan kerdil dengan ditumbuhi lumut serta lumut kerak.

- Sabana
Sabana adalah daerah padang rumput tropis dengan ciri khas adanya pohon-pohon besar. Hutan sabana umumnya berada pada daerah peralihan antara hutan dan padang rumput. Kebanyakan sabana terdapat di wilayah Australia dan Brasilia.

- Gurun
Gurun adalah wilayah daratan dengan ciri khas yang kering dan di wilayahnya tidak terdapat jenis tumbuhan apa pun, kecuali beberapa jenis kaktus saja. Umumnya, gurun terdapat di wilayah dengan iklim sangat panas dengan suhu yang tinggi, dan curah hujan rendah sehingga tidak banyak tumbuhan yang dapat bertahan hidup di wilayah gurun.

Beberapa jenis tumbuhan yang mampu bertahan hidup di sana adalah kaktus dan hanya beberapa jenis saja.

Jenis Hutan Berdasarkan Tujuannya

Jenis hutan berdasarkan tujuannya, meliputi :
- Hutan Konservasi dan Taman Nasional, adalah hutan yang dibuat dengan tujuan konservasi dan juga taman nasional.
- Hutan Produksi Terbatas dan Hutan Produksi Tetap, adalah hutan yang dibuat dengan tujuan untuk diambil hasil produksinya.
- Hutan Lindung, adalah hutan yang dibuat dengan tujuan melindungi ekosistem tertentu.
- Hutan Konversi, adalah hutan yang dibuat dengan tujuan konversi.
Jadi, jenis jenis hutan memang ada banyak yang bisa dilihat dari berbagai faktor. Untuk itu, kita perlu mempelajari aneka jenis hutan berdasarkan pada aneka faktor yang ada. Semoga tidak bingung dengan penjelasannya ya.

Referensi :
Mulyo, Bambang Nianto dan Purwadi Suhandini. 2015. Geografi untuk Kelas XI SMA dan MA. Solo : Global Tiga Serangkai.