Faktor Penyebab Perilaku Menyimpang



Pada hakikatnya, perkembangan hidup seseorangdari mulai lahir hingga dewasa, tidak terlepas dari interaksi sosial dalam masyarakat. Oleh karenanya, dapat dikatakan bahwa pengetahuan sosial bukanlah hal yang asing bagi setiap orang. 

Kehidupan sosial manusia di masyarakat memiliki aspek majemuk yang meliputi aspek hubungan sosial, ekonomi, psikologi, budaya, sejarah, geografi dan politik. Salah satu yang paling dekat adakan kehidupan sosial dalam masyarakat.

Dalam memahami pola interaksi yang terjadi dalam masyarakat inilah. Seringkali ditemukan kejanggalan – kejanggalan dimana suatu hal terjadi diluar kebiasaan atau norma yang berlaku dalam masyarakat. Hal inilah yang merujuk pada suatu yang disebut sebagai penyimpangan sosial atau perilaku menyimpang.

Vander Zanden mendefinisikan penyimpangan sosial sebagai perilaku yang oleh sejumlah besar orang dianggap sebagai suatu hal yang tercela dan diluar batas teloransi. Sementara Berger mendefenisikan pengendalian sosial sebagai berbagai cara yang digunakan masyarakat untuk menertibkan anggota yang membangkang. 

Seorang yang melakukan perilaku menyimpang, tentu ada sebabnya. Menurut Wilnes dalam bukunya Punishment and Reformation, sebab sebab penyimpangan atau kejahatan ini dapat dibagi menjadi dua, yakni faktor subjektif dan faktor objektif. Berikut penjelasannya :

  1. Faktor subjektif adalah faktor yang berasal dari seseorang itu sendiri. Artinya, faktor ini dipengaruhi oleh sifat pembawaan seseorang yang dibawa sejak lahir.
  2. Faktor objektif adalah faktor yang berasal dari luar atau lingkungan. Misalnya, seperti kondisi rumah tangga, dimana hubungan antara orang tua dan anak tidak serasi.


Faktor penyebab perilaku menyimpang

Untuk lebih jelasnya, berikut diuraikan terkait beberapa penyebab terjadinya penyimpangan seorang individu yang berdasarkan pada faktor objektif. Faktor penyebab perilaku menyimpang individu tersebut ialah :

1. Ketidaksanggupan menyerap norma kebudayaan.
Ada kalanya, seseorang tidak sanggup dalam menyerap norma-norma kebudayaan ke dalam kepribadiannya sehingga ia pun jadi berperilaku menyimpang dari norma – norma tersebut.

2. Tidak dapat membedakan hal yang pantas dan tidak pantas.
ketika seseorang tidak mampu untuk membedakan antara hal yang pantas dan tidak pantas, maka hal ini bisa membuatnya berperilaku menyimpang. Keadaan ini dapat terjadi akibat proses sosialisasi yang tidak sempurna. Sebagai contoh, karena seseorang tumbuh di dalam keluarga yang tidak harmonis atau broken home, dan ketika kedua orang tuanya tidak dapat mendidik anaknya dengan sempurna, maka anak tersebut tidak akan mengetahui hak dan kewajibannya sebagai anggota keluarga.

Baca juga: Klasifikasi Nilai dalam Sosiologi

3. Proses belajar yang menyimpang.
Seringkali, seorang melakukan tindakan menyimpang dikarenakan ia sering membaca atau melihat tayangan tentang prilaku menyimpang. Hal inilah yang merupakan bentuk perilaku menyimpang yang disebabkan oleh proses belajar yang juga menyimpang. 

Sebagai contoh, seorang anak melakukan tindakan kejahatan, dikarenakan ia baru saja melihat tayangan rekonstruksi cara melakukan kejahatan atau karena membaca artikel yang memuat tentang tindakan kriminal. 

Demikian pula ketika karir penjahat kelas kakap, yang diawali dari kejahatan kecil-kecilan yang terus meningkat. Ia pun semakin berani dan nekad karena bentuk proses belajar menyimpang yang terus ia jalani. 

Hal itu pula yang terjadi pada penjahat berdasi putih atau yang juga dikenal dengan white collar crime. Penjahat kerah putih ini merupakan para koruptor kelas kakap yang merugikan uang negara hingga milyaran rupiah bahkan lebih. 

Korupsi yang besar ini berawal dari kecurangan-kecurangan kecil semasa bekerja di kantor atau saat mengelola uang negara. Lambat laun, ia pun jadi makin berani dan semakin mahir menggunakan berbagai strategi yang rapi sehingga tidak mengundang kecurigaan karena tertutup oleh penampilan sesaat.

4. Ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial.
Ketika terjadi ketegangan antara kebuadyaan dan struktur sosial, maka hal ini dapat mengakibatkan perilaku seorang yang menyimpang. Hal itu terjadi ketika seorang yang sedang dalam upaya mencapai suatu tujuan, namun ia tidak memperoleh peluang tersebut. Akhirnya, ia pun mengupayakan peluang itu sendiri, sehingga menyebabkan terjadinya perilaku menyimpang. 

Misalnya apabila sikap penguasa semakin menindas terhadap rakyatnya, maka lama-kelamaan, rakyat pun akan berani untuk memberontak demi melawan kesewenangan tersebut. Pemberontakan bisa dilakukan secara terbuka maupun tertutup, seperti dengan jalan melakukan penipuan-penipuan atau pemalsuan data sehingga ia pun dapat mencapai tujuannya meskipun dengan cara yang tidak benar. 

Penarikan pajak yang tinggi pun dapat memunculkan keinginan untuk memalsukan data. Dengan demikian, nilai pajak yang dikenakan menjadi rendah. Contoh lain, seseorang juga dapat mencuri arus listrik untuk menghindari beban pajak listrik yang tinggi. Hal ini merupakan suatu bentuk pemberontakan atau perlawanan yang tersembunyi.

5. Ikatan sosial yang berlainan.
Setiap orang umumnya berhubungan dengan beberapa kelompok. Namun, apabila pergaulan yang ia lakukan mempunyai pola perilaku yang menyimpang, maka kemungkinan ia pun juga akan mencontoh pola-pola perilaku menyimpang tersebut.

6. Akibat proses sosialisasi nilai-nilai sub-kebudayaan yang menyimpang.
Seringnya, media massa menampilkan suatu berita atau tayangan tentang tindak kejahatan atau perilaku menyimpang. Hal ini dapat menyebabkan anak secara tidak sengaja menganggap bahwa perilaku menyimpang yang ia tonton tersebut merupakan sesuatu yang wajar. 

Hal inilah yang dikatakan sebagai proses belajar dari sub-kebudayaan yang menyimpang. Karenanya, terjadi proses sosialisasi nilai-nilai sub-kebudayaan menyimpang pada diri anak dan anak menganggap perilaku menyimpang merupakan sesuatu yang wajar atau biasa dan boleh untuk dilakukan.

Referensi :
Fisher. Simon. dkk. 2000. Mengelola Konflik. (di Indonesiakan Kartikasari dkk). Jakarta : The Britsh Council. 
Johnson. Doyle P. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Moderen. (diIndonesiakan Robert. M.Z Lawang). Jakarta: Gramedia.
Moore. Stephen. 1995. Sociology. Teach Yourself. London: Hodder Headline. 
Soekanto. Soerjono. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Grafindo Persada.
Sunarto. Kamanto. 2000. Pengantar Sosiologi. Jakarta: LP FE UI.
Turner. Jonathan. 1982. The Structure of Sociological Theory. Iilionis Amerika: the Dorsey Press. Homewood.


Diberdayakan oleh Blogger.