Definisi Penyimpangan Sosial dan Ciri Cirinya




Belajar ilmu sosiologi memang selalu dekat dengan kondisi sosial masyarakat yang terbilang kompleks. Interaksi masyarakat yang terjadi di sekitar kita dapat dipahami melalui sebuah kacamata umum. 

Kondisi masyarakat yang damai adalah sesuatu yang umum. Seorang yang menikah dan merasa bahagia, juga merupakan hal yang umum. 

Sepasang kekasih yang menikah lalu memiliki anak, adalah juga hal umum. Namun, bagaimana kalau kondisi sosial yang terjadi berlangsung secara tidak umum? Bila pasangan yang baru menikah umumnya bahagia, ada juga yang tidak. Bila seorang anak umumnya hormat pada orang tuanya, ternyata ada juga yang tidak demikian.

Suatu yang berlangsung dengan tidak umum, bisa dikatakan menyimpang bukan? Nah, mungkin seperti itulah gambaran umum pada sebuah kondisi penyimpangan sosial dalam masyarakat. Tapi, tentu saja ada definisi penyimpangan sosial yang lebih jelas dan terperinci dari para pakar. Yuk, kita simak.

Defenisi Perilaku Menyimpang


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, perilaku menyimpang diartikan sebagai perbuatan, tingkah laku, atau tanggapan dari seseorang terhadap lingkungan yang bertentangan dengan norma-norma serta hukum yang ada di dalam masyarakat.

Memang, dalam kehidupan bermasyarakat, segala tindakan manusia tidaklah bebas. Ada batasan aturan (norma) yang harus dipatuhi ketika berbuat dan berperilaku yang sesuai dengan sesuatu yang dianggap baik oleh masyarakat umum. 

Meski demikian, terkadang masih jua dapat kita jumpai tindakan-tindakan yang terjadi di tengah kehidupan masyarakat yang tidak sesuai dengan aturan (norma) yang berlaku. Misalnya saja seorang siswa yang harusnya jujur dan berbudi, maka ternyata ia menyontek pada saat ulangan, mencuri, berbohong, atau mengganggu siswa lain.

Definisi perilaku menyimpang juga dijelaskan secara lebih rinci lagi oleh beberapa ahli sosiologi. Berikut adalah definisi perilaku menyimpang menurut beberapa ahli sosiologi.

  1. Menurut James Worker Van der Zaden. Penyimpangan sosial merupakan bentuk prilaku yang oleh sejumlah besar orang, dianggap sebagai suatu hal yang tercela dan berada di luar batas toleransi.
  2. Menurut Paul Band Horton. Definisi penyimpangan sosial adalah tiap-tiap perilaku yang dinyatakan sebagai bentuk pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau norma-norma yang diakui masyarakat.
  3. Menurut Robert M. Z Lawang. Penyimpangan sosial didefinisikan sebagai segala tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat, serta menimbulkan usaha dari yang berwenang dalam sistem itu untuk dapat memperbaiki bentuk perilaku menyimpang tersebut.

Baca juga: Faktor Penyebab Perilaku Menyimpang

Deviasi


Bentuk dari penyimpangan terhadap norma-norma atau nilai- nilai masyarakat disebut juga dengan deviasi (deviation). Sedangkan, pelaku atau individu yang melakukan penyimpangan tersebut disebut sebagai devian (deviant). 

Sementara itu, kebalikan dari suatu perilaku menyimpang merupakan perilaku yang tidak menyimpang atau yang sering disebut dengan konformitas. Konformitas ini merupakan bentuk interaksi sosial, dimana di dalamnya seseorang bertingkah laku atau berbuat sesuai dengan harapan kelompok tersebut.



Ciri-ciri Perilaku Menyimpang


Tidak setiap perilaku yang kita anggap tidak baik, bisa dikatakan sebagai perilaku menyimpang ya. Ada ciri ciri perilaku menyimpang yang bisa digunakan untuk memahaminya. Menurut Paul B. Horton, perilaku menyimpang memiliki beberapa ciri, sebagai berikut :

  1. Penyimpangan harus bisa didefinisikan. Perilaku dapat dikatakan menyimpang atau tidak, harus dapat dinilai berdasarkan pada kriteria tertentu dan juga diketahui penyebabnya.
  2. Penyimpangan bisa diterima dan bisa juga ditolak. Tidak setiap perilaku menyimpang dapat dikatakan negatif. Ada kalanya, suatu penyimpangan bisa diterima oleh masyarakat. Misalnya saja seperti wanita karier. Namun, bila perilaku menyimpang tersebut berupa pembunuhan dan perampokan atau sejenisnya, maka hal ini merupakan penyimpangan sosial yang ditolak masyarakat.
  3. Penyimpangan relatif dan penyimpangan mutlak. Bisa dikatakan bahwa semua orang pernah melakukan perilaku menyimpang. Meski demikian, penyimpangan tersebut berada pada batas-batas tertentu yang bersifat relatif untuk semua orang. Dikatakan relatif karena perbedaan atau penyimpangan yang terjadi hanya pada frekuensi dan kadar penyimpanganya saja. Jadi, secara umum penyimpangan yang dilakukan setiap orang memang cenderung relatif. Bahkan, orang yang telah melakukan penyimpangan mutlak, lambat laun pun harus berkompromi dengan lingkungannya.
  4. Penyimpangan terhadap budaya nyata atau kah budaya ideal. Budaya ideal merupakan segenap peraturan hukum yang berlaku pada suatu kelompok masyarakat. Akan tetapi, pada kenyataannya tidak ada seorang pun yang patuh terhadap segenap peraturan resmi tersebut dikarenakan antara budaya nyata dengan budaya ideal selalu terjadi kesenjangan. Artinya, suatu peraturan yang telah menjadi pengetahuan umum atau memang sudah banyak dipahami, tapi dalam kenyataan di kehidupan sehari-hari, malah cenderung banyak dilanggar. Misalnya saja, seorang yang berkendara harus mengenakan helm dan membawa SIM, namun, tak sedikit orang yang berkendara dengan jarak dekat cenderung mengindahkan hal tersebut.
  5. Terdapat norma-norma penghindaran dalam penyimpangan. Norma penghindaran adalah suatu pola perbuatan yang dilakukan orang untuk memenuhi keinginan mereka, tanpa harus menentang nilai-nilai tata kelakukan secara terbuka. Jadi, norma-norma penghindaran ini adalah suatu bentuk penyimpangan perilaku yang bersifat setengah melembaga.
  6. Penyimpangan sosial bersifat adaptif (menyesuaikan). Penyimpangan sosial tidak selamanya menjadi ancaman. Malahan, kadang-kadang dapat dianggap sebagai alat pemikiran stabilitas sosial.

Referensi :
Fisher. Simon. dkk. 2000. Mengelola Konflik. (di Indonesiakan Kartikasari dkk). Jakarta : The Britsh Council. 
Johnson. Doyle P. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Moderen. (diIndonesiakan Robert. M.Z Lawang). Jakarta: Gramedia.
Moore. Stephen. 1995. Sociology. Teach Yourself. London: Hodder Headline. 
Soekanto. Soerjono. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Grafindo Persada.
Sunarto. Kamanto. 2000. Pengantar Sosiologi. Jakarta: LP FE UI.
Turner. Jonathan. 1982. The Structure of Sociological Theory. Iilionis Amerika: the Dorsey Press. Homewood.


Diberdayakan oleh Blogger.