Revolusi Cina Masa Mao Ze Dong



Gerakan Lompatan Besar ke Depan (Great Leap Forward) (Da Yue Jin)


Mao berambisi untuk membawa Cina menjadi kekuatan modern kelas satu di mata dunia. Diubahnya metode dan strategi pembangunan yang dijalankan, namun tanpa mengubah tahap-tahap pembangunan Cina.

Untuk memenuhi ambisinya itu, pada bulan Mei 1958, Mao mengumumkan strategi pembangunannya yang baru. Strategi Mao kali ini adalah dengan lompatan besar ke depan atau Great Leap Forward atau dalam bahasa aslinya disebut Da Yue Jin.

Tujuan dari kampanye ini adalah untuk membangkitkan ekonomi Tiongkok melalui industrialisasi secara besar-besaran dan memanfaatkan jumlah tenaga kerja murah. 

Target Besar Industri Baja

Sasaran utama kampanye lompatan besar ke depan adalah mengungguli semua negara kapitalis dalam waktu singkat dan menjadi salah satu negara paling kaya, paling maju, dan paling berkuasa di seluruh dunia.

Program industrialisasi ditargetkan tercapai dalam kurun waktu sepuluh hingga lima belas tahun. Industri baja menjadi pilar industri yang disebutkan Mao.

Mao memerintahkan untuk meningkatkan produksi baja hingga dua kali lipat dalam jangka waktu satu tahun. Dari hasil produksi sejumlah 5,35 juta ton pada tahun 1957 menjadi 10,7 juta ton pada tahun 1958.

Lompatan besar ke depan mempunyai slogan yang bunyinya “berjalan di atas 2 kaki” dan “kemandirian pembangunan bersama industri dan pertanian”. Slogan ini mencerminkan penerapan teknologi ganda mencakup teknologi modern dan tradisional.

Dalam mengembangkan industri baja, Mao tidak mempekerjakan tenaga ahli. Mao memilih menggerakkan seluruh rakyat untuk berpartisipasi dalam pengembangan industri baja.

Para ahli tidak dibenarkan untuk mengkritisi kebijakan Mao. Mao mengesampingkan rasionalitas dalam program kebijakan ini.

Pabrik baja dan industri terkait seperti tambang batu bara harus bekerja keras agar hasil produksi semakin besar. Tingginya target yang ditetapkan Mao membuat pabrik-pabrik tersebut tidak mampu mencapainya.

Menghadapi ini, Mao bukannya menurunkan targetnya. Malahan, Mao memerintahkan untuk membangun tanur rakyat. Rakyat dipaksa menyerahkan semua benda logam yang dimiliki, seperti alat-alat pertanian, alat-alat memasak, pegangan pintu, tempat tidur besi, dan sebagainya.

Benda-benda yang terkumpul lalu dicairkan dan dilelehkan untuk dijadikan baja. Untuk mendapatkan kayu bakar, pemerintah bahkan hingga menggunduli gunung-gunung. Setiap unit produksi mempunyai kuota produksi baja yang harus dipenuhi.

Untuk memenuhi target program ini masyarakat kemudian banyak menghentikan kegiatan rutin mereka hingga berbulan-bulan.


Nasib Para Petani

Dalam kegiatan pertanian, rakyat wajib mengelola pertanian bersama secara serentak. Tidak dibenarkan melakukan pertanian secara perorangan. Para penduduk dikelompokkan dalam kelompok besar beranggotakan ribuan orang.

Mereka kemudian dipaksa bertani dengan disiplin militer. Pada tahun 1958 pemerintah melakukan perlombaan antar kelompok pertanian di seluruh Cina. Mereka yang berpenghasilan terbesar dianggap sebagai komunis teladan.

Program ini membuat setiap kelompok bersumpah dapat melampuai kuota hasil panen yang ditetapkan. Para petani mengaku mendapatkan penghasilan melebihi kuota. Pada kenyataannya, angka yang disampaikan adalah hitungan palsu.

Akibatnya, Partai Komunis beranggapan persediaan gandum dan beras telah melampaui batas. Dengan demikian, Cina selanjutnya dapat mengedepankan mata pencaharian lain. Puluhan juta petani lantas dikerahkan dalam proyek pembangunan prasarana.

Jam kerja pabrik juga dilipatgandakan. Bahkan mesin harus terus berjalan, tidak boleh dimatikan meski hanya untuk perawatan.

Petani menjadi bekerja jauh lebih keras dan lebih lama dari sebelumnya. Tenaga dalam jumlah yang sangat besar dikerahkan dalam proyek pembangunan jaringan irigasi yang meliputi bendungan, waduk, dan kanal.

Terhitung sejak 1958 hingga empat tahun berikutnya, diperkirakan hampir seratus juta petani harus meninggalkan pekerjaan di tanah pertanian untuk bekerja di proyek-proyek pembangunan. Proyek-proyek besar tersebut dikerjakan menggunakan peralatan seadanya.

Karenanya, banyak proyek pembangunan yang berhenti di tengah jalan. Bahkan banyak petani yang menjadi korban dalam proyek pembangunan tersebut. Padahal, para petani yang dipekerjakan tersebut adalah tenaga kerja yang seharusnya memproduksi bahan pangan dalam jumlah besar di wilayah pesedaan.

Pelajari juga: Sistem Politik Cina dan Struktur Pemerintahnya

Kegagalam Lompatan Jauh ke Depan

Lompatan jauh ke depan justru menimbulkan salah satu bencana ekonomi yang terbesar pada abad ke-20. Kegagalan gerakan ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti: 

a. Tenaga kerja dibidang pertanian tidak cukup, karena tenaga produktif dialihkan ke industri.
b. Angka statistik dilambungkan dan juga tidak sesuai kenyataan. Hal tersebut membuat petinggi Cina mengira program sukses.
c. Kualitas tenaga kerja rendah atau kurang memadai, sehingga baja yang dihasilkan berkualitas rendah.
d. Bahan bakar untuk bidang non industri tidak mencukupi.

Perpecahan serius di jajaran pimpinan mulai muncul akibat gerakan lompatan besar ke depan. Perpecahan ini baru pertama kali terjadi sejak komunis mengambil alih kekuasaan satu dekade sebelumnya.

Kemudian, jabatan Mao sebagai kepala negara diserahkan kepada Liu Shaoqi. Pada bulan Juni 1959 diselenggarakan konferensi khusus di wilayah Lushan. Menteri Pertahanan Peng De Huai mengkritik kebijakan Lompatan Besar ke Depan.

Peng lantas merekomendasikan pendekatan realistis dalam bidang ekonomi. Karena kritikannya, Peng dianggap sebagai orang kanan yang oportunis. Mao menyebut Peng sebagai kaki tangan kapitalis.

Peng kemudian dipecat sebagai Menteri Pertahanan, dan mendapatkan hukuman tahanan rumah. Peng lalu dikirim ke Sichuan untuk dipensiun dini sebagai pejabat rendah.

Petani semakin banyak dimobilisasi dalam industri pembuatan baja. Hal tersebut membuat bencana kelaparan meluas ke seluruh daerah Cina pada tahun 1960-an. Banyak rakyat, terutama kaum petani yang terserang busung lapar.

Bencana kelaparan di pedesaan semakin parah karena mereka tidak mendapat bahan makanan. Pemerintah lebih mendahulukan kepentingan orang kota.

Pemimpin-pemimpin komune menyita beras para petani. Para petani yang berani menyembunyikan bahan pangan kemudian ditangkap, dipukuli dan disiksa.

Kebijakan ini membuat berjuta-juta petani mati kelaparan. Padahal merekalah yang menjadi tulang punggung produksi bahan makanan. Kematian puluhan juta rakyat memaksa Mao menghentikan kebijakan-kebijakan ekonominya pada awal tahun 1961.

Mao lantas melepaskan jabatannya sebagai presiden RRC. Mao memberikan kekuasaan lebih besar atas Cina pada Presiden Liu dan Deng Xiaoping, sekjen partai (Darini; 2010; 39-44).

Berbagai kebijakan perekonomian Mao belum dapat membawa Cina dalam kestabilan ekonomi. Perekonomina Cina tidak dapat terus mengalami pertumbuhan.

Dalam beberapa tahun, GDP Cina sempat menurun atau menunjukan angka negatif. Berikut tabel GDP dari tahun 1953 – 1976, dimasa pemerintahan Mao Zedong :

TABEL NILAI GDP DAN PERTUMBUHAN EKONOMI CINA (1953-1976)
Tahun
GDP Milyar Yuan (Rmb)
Prosentase Pertumbuhan (%)
1953
82,4
15,6
1954
85,9
4,2
1955
91,0
6,8
1956
102,8
15,0
1957
106,8
5,1
1958
130,7
21,3
1959
143,9
8,8
1960
145,7
-0,3
1961
122,0
-27,3
1962
114,9
-5,6
1963
123,3
10,2
1964
145,4
18,3
1965
171,6
17,0
1966
186,8
10,7
1967
177,4
-5,7
1968
172,3
-4,1
1969
193,8
16,9
1970
225,3
19,4
1971
242,6
7,0
1972
251,8
3,8
1973
272,1
7,9
1974
279,0
2,3
1975
299,7
8,7
1976
294,4
-1,6
Sumber: www.chinability.com, diakses pada 7 April 2012

Tabel GDP di atas menunjukkan bahwa eksperimen terhadap perekonomian Cina justru membuat ekonomi negara tidak stabil. Pertumbuhan ekonomi negara bahkan sempat menyentuh angka minus.


Diberdayakan oleh Blogger.