Deskripsi dan Definisi Footloose industry




Yang dimaksud dengan footloose industry adalah jenis perusahaan yang tidak terikat oleh lokasi tertentu sehingga lebih fleksibel untuk dipindahkan atau ditempatkan di wilayah atau daerah manapun yang dirasa lebih menguntungkan dan dapat mengakomodir tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan tersebut. 

Artinya, jenis perusahaan footloose industry akan selalu mencari wilayah yang paling tepat untuk dijadikan sebagai basis produksinya. Tujuannya adalah untuk (1) menekan biaya produksi guna meningkatkan profit, serta (2) menciptakan Global Production Networks (GPN). 


Footloose industry menjadi kebijakan yang dilakukan oleh perusahaan multinasional dikarenakan kebutuhan perusahaan untuk memperoleh pemasukan (input) yang besar dengan pengeluaran (output) yang seminimal mungkin dengan mengefisiensikan pengeluaran dalam faktor-faktor produksi. 

Kebijakan footloose industry berkaitan erat dengan kebijakan pemindahan lokasi produksi guna mencapai tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh suatu perusahaan multinasional. Hal ini karena footloose industry merupakan jenis perusahaan yang tidak terikat oleh lokasi tertentu sehingga lebih fleksibel untuk dipindahkan atau ditempatkan di daerah manapun yang dirasa lebih menguntungkan. 

Footloose industry biasanya bercirikan sebagai suatu perusahaan dengan teknologi tinggi[1], seperti contohnya Perusahaan Elektronik, Perusahaan Laptop, perusahaan PC.

Global Production Networks (GPN) atau Jaringan Produksi Global yang dimaksudkan adalah sebuah konsep yang bermakna bahwa sistem produksi pada era globalisasi ditunjang oleh beberapa jaringan faktor produksi yang memiliki spesifikasi kemampuan produksi yang berbeda-beda dan terletak pada lokasi yang tersebar di seluruh dunia namun masih melakukan koordinasi yang intens antara satu sama lain. 

Faktor produksi meliputi berbagai hal misalnya Research and Development, desain, manufkatur, pemasaran, upah dan ketersediaan buruh. Secara sederhana, GPN mengarah pada pembentukan jaringan perusahaan secara global. Dengan jaringan ini, maka perusahaan dapat lebih menekan biaya produksi serta transportasi yang pada akhirnya dapat memperoleh profit maksimal. 

Baca juga: Teori Perdagangan Internasional

Sebagai gambaran adalah rantai faktor produksi yang terdiri dari Research and Development, desain, manufkatur, pemasaran dapat dijalankan oleh grup perusahaan yang berlokasi di wilayah yang berbeda antara satu sama lain, namun faktor-faktor produksi ini masih melakukan koordinasi yang intens antara satu sama lain. 

Dengan metode seperti ini akan lebih memberi keuntungan kepada suatu persuahaan multinasional karena masing-masing faktor produksi tersebut dapat memanfaatkan potensi yang dimiliki suatu wilayah tertentu.

Dalam menentukan lokasi yang tepat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang kompleks dan saling berkaitan antara satu sama lain, seperti struktur kekuatan GPN suatu wilayah, kemampuan perusahaan, kebijakan nasional negara yang akan menjadi tuan rumah dan institusi lokal baik itu pemerintah daerah ataupun institusi lain yang berkaitan dengan masalah ini[2], serta kesesuaian dengan kebutuhan perusahaan. 

Beberapa kriteria tersebut misalnya upah, ketersediaan, produfktifitas dan skill dari buruh. Sedangkan faktor kebijakan dari pemerintah negara tuan rumah dan/atau pemerintah daerah yang dimaksud adalah yang menyangkut masalah aturan-aturan mengenai investasi asing, insentif, serta pajak yang dikenakan terhadap suatu perusahaan maupun perseorangan.[3] 

Kebijakan footloose industry ini memiliki kaitan yang erat dengan apa yang disebut comparative advantage dimana tidak semua negara di dunia dapat memproduksi suatu barang dengan tingkat efisiensi yang sama antara satu dengan yang lainnya. Comparative advantage menurut David Ricardo dibentuk oleh efisiensi tenaga kerja dalam menghasilkan suatu produk. 

Efisiensi ini akan meningkatkan hasil produksi suatu perusahaan, sehingga harga barang menjadi lebih murah dan upah buruh menjadi lebih terjangkau bagi perusahaan karena ketersediaan faktor produksi secara langsung maupun tidak langsung dapat membawa profit bagi perusahaan.[4]

Selain memberikan keuntungan kepada perusahaan multinasional, footloose industry juga dapat memberikan keuntungan bagi negara yang menjadi tujuan dari perusahaan tersebut karena merupakan investasi yang bersifat langsung. Investasi langsung bagi suatu negara dapat memberikan beberapa keuntungan, karena:[5]

  1. tidak mendatangkan beban yang harus dibayar dalam bentuk bunga dividen atau pembayaran kembali
  2. dapat mengkombinasikan keahlian, teknologi dan kapital 
  3. dapat mengatasi kesulitan masalah transfer
  4. terdapat penanaman kembali dari keuntungan investasi yang sudah ada
  5. dapat menciptakan alih tekonologi dan ketrampilan


Sumber:

[1] http://www.bbc.co.uk/schools/gcsebitesize/geography/economic_change/industry_medcs_rev2.shtml, diakses pada
[2] Tain Jy-Chen dan Ying Hua-Ku, How Mobile is Footloose industry? The Case of The Notebook PC Industry in China, Hawai’i, East West Center Publication, 2013, h. 3.
[3] Jill M.Decker dan John L. Crompton, Attracting Footloose Companies : An Investigation of the Business Location Decision Process, Journal of Professional Services Marketing Vol 9 (1), The Haworth Press, Inc, 1993, h. 82.
[4] Paul A. Samuelson dan Peter Temin, Economics Tenth Edition, Mcgraw Hill Book Company, 1976, h. 377.
[5] Lia Amalia, Ekono
mi Internasional, Yogyakarta, Graha Ilmu, 2007, h. 127.


Diberdayakan oleh Blogger.