Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Daerah Aliran Sungai (DAS): Pengertian, Pembagian, Karakteristik dan Pengelolaan DAS

Sungai memiliki peran penting dalam siklus hidrologi. Hal ini juga berlaku untuk Daerah Aliran Sungai atau DAS. DAS atau Daerah Aliran Sungai merupakan sebutan bagi suatu ekosistem sebagai tempat unsur organisme, lingkungan biofisik, dan unsur kimia untuk berinteraksi secara dinamis, sehingga terjadi keseimbangan inflow dan outflow material dan energy di dalamnya. 

Pengertian DAS menurut para ahli

Untuk lebih memahami apa itu DAS, kita bisa merujuk pengertian DAS menurut para ahli.  

PP No 37 tentang Pengelolaan DAS, Pasal 1, menyebutkan bahwa “DAS termasuk suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan.”

Ahli lain, Dharmawan, dkk (2005), mendefinisikan DAS sebagai “bentang lahan yang dibatasi oleh topografi pemisah aliran (topographic divide), yaitu punggung bukit atau gunung yang menangkap curah hujan, menyimpan dan kemudian mengalirkannya melalui saluran-saluran pengaliran ke suatu titik (outlet) yang umumnya berada di muara sungai biasa atau danau.”

Sedangkan Asdak (2010), mengartikan DAS sebagai suatu wilayah daratan yang secara topografik dibatasi punggung-punggung gunung yang menampung serta menyimpan air hujan, sehingga selanjutnya dapat disalurkan menuju ke arah lautan dengan melewati sungai utama.

Suripin (2002), menyampaikan pengertian DAS sebagai “suatu wilayah yang dibatasi oleh batas alam, seperti punggung bukit-bukit atau gunung, maupun batas batuan, seperti jalan atau tanggul, dimana air hujan turun di wilayah tersebut memberi kontribusi aliran ke titik kontrol (outlet).”

Ahli lain, yakni Kodoatie dan Sugiyanto (2002), menjelaskan definisi DAS sebagai suatu kesatuan daerah/ wilayah/ kawasan tata air yang secara alamiah terbentuk dengan adanya air yang tertangkap dan berasal dari curah hujan, sehingga dapat mengalir dari daerah/ wilayah/ kawasan tersebut ke arah sungai-sungai yang berhubungan. 

Sugiharto (2001) sendiri mendefinisikan Daerah Aliran Sungai sebagai “suatu daerah yang dibatasi oleh pemisah topografi yang menerima air hujan, menampung, menyimpan, dan mengalirkan ke sungai dan seterusnya ke danau atau ke laut.”

Dari pengertian DAS yang disampaikan para ahli di atas, bisa kita simpulkan bahwa daerah aliran sungai merupakan wilayah yang dibatasi oleh pembatas topografi yang menampung air hujan, sedimen, atau unsur hara, kemudian membawanya lewat saluran air sehingga mengalir dan berkumpul menuju muara sungai, danau, waduk atau laut. 

Pentingnya DAS bagi siklus hidrologi, karena DAS ini menjadi jalur utama bagi air untuk dapat mengalir dan memastikan siklus hidrologi berjalan sebagaimana mestinya. Ketika DAS terganggu, semisal terjadi masalah dalam penangkapan curah hujan, resapan hingga penyimpanan air, akibatnya dapat membuat vegetasi penutup tidak seimbang. Imbasnya, perubahan pada aliran sungai dapat terjadi dan cadangan air tanah pun terganggu.

Konservasi DAS

Karena pentingnya keberadaan DAS, perlu dilakukan konservasi DAS. Konservasi DAS dapat menjamin ketersediaan air tanah dan air di muka bumi ini bagi kelangsungan hidup manusia. 

Konservasi DAS adalah berbagai upaya yang dilakukan dengan tujuan pelestarian lingkungan berdasarkan pada peran dan fungsi wilayah-wilayah yang ada pada DAS. Konservasi DAS meliputi usaha-usaha untuk perlindungan, pemeliharaan dan pemanfaatan ekosistem secara berkelanjutan. 

Komponen DAS

Di dalam ekosistem DAS, terdapat beberapa komponen penting yang berperan dalam mendukung ekosistem DAS. Komponen DAS meliputi: 

  1. manusia, 
  2. hewan, 
  3. vegetasi, 
  4. tanah, 
  5. iklim, dan 
  6. air. 

Masing-masing komponen yang ada dalam ekosistem DAS ini memiliki sifat khasnya sendiri. Meski demikian, masing-masing komponen tetap berhubungan satu sama lain untuk dapat membangun kesatuan sistem ekologis atau ekosistem yang saling menyeimbangkan.

Pembagian Daerah Aliran Sungai

Daerah Aliran Sungai dapat dibagi dalam tiga bagian utama: (1) bagian hulu, (2) bagian tengah dan (3) bagian hilir. Masing-masing bagian DAS membutuhkan koservasi tersendiri dengan disesuaikan pada fungsinya. Berikut adalah pembagian dan pemanfaatannya.

Bagian hulu merupakan bagian yang memiliki fungsi konservasi dengan upaya pengelolaan yang bertujuan untuk mempertahankan kondisi lingkungan DAS agar tidak terdegradasi. Peran ini dilihat dari indikasi kondisi tutupan vegetasi lahan DAS, kualitas air, kemampuan menyimpan air (debit), dan curah hujan.

Bagian tengah merupakan bagian DAS yang memegang fungsi pemanfaatan air sungai yang dikelola dalam pemanfaatan kepentingan sosial dan ekonomi, dengan melihat pada indikasi kuantitas air, kualitas air, kemampuan menyalurkan air, dan ketinggian muka air tanah. Hal ini juga berkaitan dengan prasarana pengairan seperti pengelolaan sungai, waduk, dan danau.

Bagian hilir ini berdasarkan fungsi pemanfaatan air sungai yang pengelolaannya berguna untuk memberikan manfaat kepentingan sosial dan ekonomi. Peran ini dilihat dari indikasi kuantitas dan kualitas air, kemampuan dalam menyalurkan air, ketinggian curah hujan, serta hal lain sehubungan dalam memenuhi kebutuhan pertanian, air bersih, serta pengelolaan air limbah.

Karakteristik DAS 

Karakteristik DAS merujuk pada gambaran secara spesifik yang berhubungan dan menunjukkan fungsi DAS. Hal ini dilihat dari ciri parameter terkait keadaan morfometri, topografi, tanah geologi, vegetasi, penggunaan lahan, hidrologi dan manusia. 

Secara umum, karakteristik DAS dapat dibagi dalam dua hal, berupa: (1) karakteristik biogeofisik dan (2) karakteristik sosial ekonomi budaya dan kelembagaan.

Karakteristik biogeofisik, adalah karakteristik dalam meteorologi DAS, karakteristik morfologi DAS, karakteristik morfometri DAS, karakteristik hidrologi DAS, dan karakteristik kemampuan DAS. 

Karakteristik sosial ekonomi budaya dan kelembagaan, ini meliputi karakteristik sosial kependudukan DAS, karakteristik sosial budaya DAS, karakteristik sosial ekonomi DAS dan karakteristik kelembagaan DAS.

Pengelolaan DAS

Daerah aliran sungai pada dasarnya beragam. Ada karakter tersendiri sehingga proses pemanfaatan dan pengelolaannya juga beragam. Hal ini membuat pengelolaan DAS yang dilakukan juga perlu menyesuaikan pada keberagaman tersebut.

Misalnya saja, terdapat wilayah hutan, perkebunan, pertanian, jalan, irigasi, hingga desa. Setiap wilayah ini memiliki DAS yang pengelolaannya harus dilakukan dengan melihat fungsi wilayah dan karakter wilayah masing-masing. 

Pengelolaan DAS penting dilakukan untuk memastikan siklus hidrologi berjalan lancar, dan daerah aliran sungai berjalan sesuai fungsinya. Hal inilah yang dapat mendukung ketersediaan lahan dan ketersediaan air yang memadai bagi masyarakat dan makhluk hidup lain. 

Tujuan pengelolaan DAS pada dasarnya beragam, dan semua bermuara pada ketersediaan air guna memenuhi kebutuhan makhluk hidup di muka bumi. Di antaranya, mengkonservasi tanah pada lahan, seperti pengelolaan di lahan pertanian, memanen kelebihan air yang terjadi di musim hujan, sehingga air tersebut dapat memanfaatkannya di musim kemarau, mendorong usaha tani secara berkelanjutan dengan melakukan perbaikan di sistem pertanian, memperbaiki keseimbangan ekologi mulai dari hulu ke hilir.

Perlu diketahui pula bahwa dalam DAS, sering ditemui permasalahan yang mengancam eksistensi air dan terganggunya siklus hidrologi. Jadi, tanpa pengelolaan DAS yang tepat, masalah-masalah dapat muncul, seperti yang berhubungan dengan jumlah atau kuantitas dan kualitas atau mutu air. 

Sebagai contoh, pada air sungai, pada saat jumlahnya berlebihan, akibatnya akan terjadi banjir. Di sisi lain, jika jumlahnya terlalu sedikit, imbasnya adalah kekeringan. Dari kuantitas maupun kualitas, DAS harus terjaga secara seimbang demi mendukung kelangsungan hidup makhluk hidup di muka bumi.

Referensi:

  • Admin. 2016. Daerah Aliran Sungai, diakses dari https://konservasidas.fkt.ugm.ac.id/2016/09/10/daerah-aliran-sungai/
  • Asdak, Chay. 2010. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Air Sungai. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  • Budi Chandra. 2015. Pengertian Daerah Aliran Sungai (DAS), diakses dari https://elang.or.id/blog/pengertian-daerah-aliran-sungai-das/
  • Muchlisi Riadi. 2019. Daerah Aliran Sungai (DAS), diakses dari https://www.kajianpustaka.com/2019/10/daerah-aliran-sungai-das.html
  • Suripin. 2002. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air. Yogyakarta: Andi.
  • World Agrofostery Center. Tt. Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, diakses dari http://apps.worldagroforestry.org/sea/Publications/files/leaflet/LE0024-04.pdf