Latar Belakang dan Sejarah ASEAN

Bagi para pelajar, tentu sudah pernah mendengar kata ASEAN bukan? ASEAN adalah singkatan dari Asosiation of South East Asian Nation

Secara sederhana, ASEAN dapat dipahami sebagai asosiasi atau organisasi kawasan di Asia Tenggara. Nah, kalau sudah tahu singkatan ASEAN, apakah kamu juga sudah tahu latar belakang pembentukan ASEAN dan juga sejarah ASEAN?

Latar belakang dan sejarah ASEAN penting untuk diketahui agar kamu bisa lebih memahami tentang visi misi ASEAN sejak awal pembentukkan dan bagaimana ASEAN terus berkembang sampai saat ini jadi suatu organisasi kawasan yang berpengaruh cukup besar terhadap berbagai kerjasama regional di Asia Tenggara.


Letak Asia Tenggara yang strategis

Salah satu hal yang melatarbelakangi munculnya ASEAN adalah karena letak Asia Tenggara yang strategis baik secara geopolitik maupun geoekonomi. 

Kondisi Asia Tenggara yang strategis dapat dibuktikan dari banyaknya persaingan pengaruh yang terjadi antara Blok Barat dan Blok Timur di kala Perang Dingin.

Secara lebih gamblang, persaingan antara Blok Barat dan Blok Timur ini dapat dilihat dari Perang Vietnam. 

Dimana pada perang di salah satu negara kawasan Asia Tenggara ini, Vietnam terpecah jadi dua bagian, yakni Vietnam Utara dan Vietnam Selatan.


Persaingan Blok Barat dan Blok Timur di Asia Tenggara



Vietnam Utara mendapatkan dukungan dari kekuatan komunis atau Blok Timur sementara Vietnam Selatan didukung oleh Amerika Serikat atau Blok Barat. 

Persaingan antara kedua blok inilah yang kemudian menyeret negara – negara lain di kawasan Asia Tenggara sehingga menjadikan kawasan Asia Tenggara menjadi basis kekuatan militer Blok Barat dan Blok Komunis.

Kala itu, blok komunis yang berada di bawah komando Uni Soviet menempatkan pangkalan militernya di Vietnam, sementara Blok Barat di bawah komando Amerika Serikat menempatkan pangkalan militernya di Filipina.


Semakin maraknya konflik ideologi dan militer di Asia Tenggara

Aneka konflik militer lain pun banyak bermunculan di kawasan Asia Tenggara dan semakin membuat wilayah ini jadi medan peperangan sengit. 

Terdapat konflik militer yang melibatkan Laos, Kamboja dan Vietnam. Ada juga konflik bilateral yang terjadi antara Indonesia dan Malaysia, konflik antara Kamboja dan Vietnam, juga konflik internal lain di wilayah Thailand, Kamboja juga Indonesia.


Konflik bersenjata yang saling menghancurkan inilah yang kemudian menyadarkan para pemimpin dari negara – negara di kawasan Asia Tenggara, bahwa mereka perlu melakukan kerja sama. 

Dengan kerja sama diharapkan dapat meredakan sikap saling curiga serta potensi konflik lain yang terjadi diantara negara anggota, sekaligus sebagai upaya mendorong pembangunan bersama di kawasan Asia Tenggara yang memang rata- rata masih merupakan negara berkembang.


Munculnya Organisasi Kawasan Sebelum ASEAN

Sebagian para pemimpin negara di Asia Tenggara pun mengadakan pertemuan untuk mewujudkan gagasan kerja sama mereka. 

Beberapa inisiatif pun berhasil dimunculkan, yakni dengan pembentukan Perhimpunan Bangsa – Bangsa Asia Tenggara (Association of Southeast Asia - ASA), Malaya – Philippina – Indonesia (Maphilindo), Traktat Organisasi Asia Tenggara (South East Asia Treaty Organization - SEATO), dan juga Dewan Asia Pasifik (Asia and Pasific Council - ASPAC).

Apakah semua inisiatif positif ini berhasil? Sayangnya tidak. Aneka kerjasama ini nampaknya belum mampu membuahkan hasil sempurna. 

Tapi, bukan berarti kegagalan ini sama sekali tak berarti. Meski gagal, upaya ini justru semakin mendorong para pemimpin neara di kawasan ini untuk dapat membentuk suatu organisasi kerjasama di kawasan yang lebih baik lagi,




Membentuk Deklarasi Bersama (Joint Declaration)

Melalui perwakilan negara yakni para menteri luar negeri dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailang kemudian melakukan berbagai pertemuan konsultatif secara intens. Pertemuan mereka ini kemudian sukses melahirkan suatu rancangan Dekarasi Bersama atau joint declaration.

Isi dari deklarasi bersama ini antara lain mencakup tentang kesadaran perlunya meningkatkan saling pengertian untuk hidup bertetangga secara baik, serta membina kerja sama yang bermanfaat di antara negara- negara di kawasan yang telah terikat oleh pertalian sejarah dan juga budaya.


Lahirnya Deklarasai Bangkok 8 Agustus 1967

Deklarasi bersama tersebut pun ditindaklanjuti secara nyata. Hingga di tanggal 8 Agustus 1967, bertempat di Kota Bangok, Thailand, lima wakil negara atau pemerintahan dari negara – negara Asia Tenggara pun melakukan pertemuan dan akhirnya menandatangani Deklarasi ASEAN (The ASEAN Declaration) atau yang juga dikenal sebagai Deklarasi Bangkok (Bangkok Declaration).

Lima wakil negara yang dapat disebut sebagai pendiri ASEAN tesebut adalah :


  1. Indonesia – dengan Menteri Luar Negari Adam Malik
  2. Malaysia – dengan Wakil Perdana Menteri merangkap Menteri Pertahanan dan Mengerti pembangunan Nasional Malaysia Tun Abdul Razak
  3. Filipina – dengan Menteri Luar Negari Narciso Ramos
  4. Singapura – dengan Menteri luar Negeri S. Rajaratnam
  5. Thailand – dengan Menteri Luar Negeri Thamat Khoman.


Deklarasi Bangkok sebagai Tanda Kelahiran ASEAN

Deklarasi Bangkok inilah yang menjadi tanda kelahiran dari organisasi kawasan yang diberi nama Perhimpunan Bangsa – Bangsa Asia Tenggara atau Association of Southeast Asian Nations – ASEAN.

Pada awal berdirinya, tujuan organisasi ASEAN ini adalah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, mendorong perdamaian serta stabilitas wilayah dan juga membentuk kerja sama di berbagai bidang kepentingan bersama.

Baca juga: Tujuan ASEAN yang Tertuang dalam Piagam ASEAN


Perkembangan ASEAN pasca 1967

ASEAN menunjukkan perkembangan yang cenderung positif. Lambat laun, ASEAN mengalami serangkaian kemajuan yang terbilang menggembirakan di bidang ekonomi dan politik. 

Misalnya saja hal ini dapat dilihat dari disepakatinya Deklarasi Kawasan Damai, Bebas dan Netral atau Zone of Peace, Freedom and Neutrality Declaration – ZOPFAN yang ditandatangani di tahun 1971.

Kemudian, di tahun 1976, lima negara anggota ASEAN kembali sukses menyepakati Traktat Persahabatan dan Kerjasama atau Treaty of Amity and Cooperation – TAC. 

TAC inilah yang kemudian sukses menjadi landasan bagi negara – negara ASEAN untuk hidup berdampingan secara damai.


Bergabungnya 10 Negara Asia Tenggara dalam ASEAN



Keberhasilan dari lima negara pendiri ASEAN ini kemudian mendorong negara – negara lain di kawasan Asia Tenggara yang belum bergabung mulai tertarik. Mereka pun akhirnya bergabung dan menggenapi anggota ASEAN menjadi 10 negara.

Berikut ini adalah daftar negara anggota ASEAN yang baru bergabung :


  1. Brunei Darussalam - resmi menjadi anggota ke-6 ASEAN di tanggal 7 Januari 1984 dalam Sidang Khusus Menteri – Menteri Luar Negeri ASEAN atau ASEAN Ministrial Meeting / AMM di Jakarta, Indonesia.
  2. Vietnam – resmi menjadi anggpta ke-7 ASEAN di tanggal 29-30 Juli 1955 dalam pertemuan para Menteri Luar Negeri ASEAN yang ke-28 di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam.
  3. Laos dan Myanmar – resmi menjadi anggota ke-8 dan ke-9 ASEAN di tanggal 23 – 28 Juli 1997 pada pertemuan para Mengeri Luar Negeri ASEAN ke-30 di Subang Jaya, Malaysia.
  4. Kamboja – resmi menjadi anggota ke – 10 ASEAN dalam upacara Khusus Penerimaan pada tanggal 30 April 1999 di Hanoi, Vietnam.


Bergabungnya ke-10 negara ini termasuk suatu pencapaian dari cita – cita para pendiri ASEAN yang mengharapkan seluruh negara di kawasan Asia Tenggara dapat bergabung dalam kerja sama untuk menjadi kawasan yang lebih baik ini.

Sumber: nn. 2010.  ASEAN Selayang Pandang. Jakarta Pusat : Sekreatriat Direktorat Jenderal kerja sama ASEAN