Macam Makna dalam Semantik



Semantik adalah ilmu tata bahasa yang mempelajari tentang makna kata dan perkembangannya. Di dalam semantik, kaidah tata bahasa dipelajari dengan memperhatikan keterkaitan kata dan maknanya serta pengujarannya (vocal/ bunyi).

Pengertian makna


Makna atau arti kata adalah hubungan antara bunyi ujaran (vocal) dengan hal yang dimaksudkan dari kata tersebut. Makna suatu kata tikak selalu tetap. Makna kata dalam bentuk lepas tidak selalu sama dengan makna kata tersebut jika berada di dalam kalimat. 

Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh susunan dan hubungan kata lepas (kata secara ‘utuh’/ ‘tunggal’ yang tidak berada dalam kalimat) dengan kata lepas laiinya di dalam kalimat. Jika didasarkan pada makna yang dimiliki suatu kata, makna kata dapat dibedakan menjadi: 

Makna Leksikal

Makna leksikal adalah makna yang dimiliki suatu kata dalam bentuk lepas atau bukan dalam kalimat. Makna leksikal juga disebut makna lugas atau makna denotatif, sebagaimana arti yang dapat ditemukan dalam kamus

Contoh:

  1. kata ‘kursi’ memiliki makna ‘tempat duduk yang berkaki empat dan bersandaran’
  2. kata ‘benang’ memiliki makna ‘tali halus yang di[intal dari kapas’ 

Makna gramatikal 

Makna gramatikal adalah makna yang dimiliki oleh suatu kata setelah kata tersebut berada dalam kalimat. Makna gramatikal muncul akibat hubungan kata yang dimaksud dengan kata lain yang berada dalam satuan yang lebih besar, seperti frase atau kalimat. 

Makana gramatikal juga disebut dengan makna struktural, atau arti kata yang diteliti berdasarkan hubungannya dengan struktur bahasa.

Contoh: 

  • kata ‘lapang’ memiliki makna leksikal ‘luas atau lebar’

Ketika kata ‘lapang’ berada pada kalimat ‘Kita harus berlapang dada dalam menghadapi semua cobaan.’ Maka makna gramatikal kata ‘lapang’ pada kalimat tersebut berubah menjadi ‘bersabar’. 

Makna konotatif 

Makana konotatif adalah makna yang muncul karena asosiasi pikiran dan perasaan terhadap kata yang di dengar. Jadi, makna konotatif dapat diartikan sebagai makna kiasan atau makna tambahan dan bukan makna kata yang sebenarnya.

Contoh:

  • Anak yang panjang tangan itu dibenci oleh teman-temannya. ‘Panjang tangan’ memiliki makna konotatif yakni suka mencuri. 

Homonim 

Homonim adalah beberapa kata yang bentuknya sama tetapi memiliki makna yang berbeda. Kata ‘homo’ secara etimologi dapat berarti sama. Sehingga dapat dikatakan bahwa kata homonim memiliki kesamaan dalam hal penulisan dan pelafalan, hanya saja artinya berbeda.

Contoh:

  1. kata ‘daki’ dapat berarti (1) kotoran yang melekat pada tubuh; dan ‘daki’ yang berarti (2) memanjat atau menanjak. Kedua kata ‘daki’ memiliki penulisan dan pelafalan yang sama.
  2. kata ‘bisa’ dapat berarti (1) mampu melakukan sesuatu; dan ‘bisa’ yang berarti (2) racun yang berasal dari binatang. Kedua kata ‘bisa memiliki penulisan dan pelafalan yang sama.


Homograf 

Homograf adalah beberapa kata yang sama penulisannya atau ejaannya, tetapi memiliki makna dan pelafalan yang berbeda. 

Untuk memudahkan dalam memahami dan mengingat, kata ‘graf’ secara etimologi berarti tulisan, sehingga secara sederhana dapat dikatakan bahwa hanya ‘graf’ / tulisannya yang sama, sementara pelafalan/ pengucapan dan maknanya berbeda.

Contoh:

  1. kata (1) ‘teras’ berarti hati kayu atau bagian inti
  2. kata (2) ‘teras’ berarti bagian rumah yang berupa tanah atau lantai yang agak tinggi di depan rumah.
  3. kata teras (1) dan (2) memiliki penulisan yang sama, hanya saja pelafalannya berbeda sehingga juga memiliki makna yang berbeda. 

Homofon 

Homofon adalah beberapa kata yang sama lafal atau pengucapannya, tetapi ejaan atau penulisan dan maknanya berbeda. 

Untuk memudahkan dalam memahami dan mengingat, kata ‘fon’ secara etimologi berarti suara/ ucapan/ lafal, sehingga secara sederhana dapat dikatakan bahwa hanya ‘fon’ / pelafalannya yang sama, sementara penulisan atau ejaan dan maknanya berbeda.

Contoh:

  1. kata (1) ‘sanksi’ berarti suatu tindakan
  2. kata (2) ‘sangsi’ berarti ragu-ragu
  3. kata ‘sanksi’ dan ‘sangsi’ memiliki penulisan pelafalannya yang sama, hanya saja penulisannya berbeda sehingga juga memiliki makna yang berbeda. 

Baca juga: Majas atau Gaya Bahasa

Polisemi 

Polisemi adalah suatu kata yang dapat memiliki bermacam-macam makna.

Contoh:

  1. melayangkan pandangan, memiliki makna melihat ke suatu arah
  2. selayang pandang, memiliki makna sejenak
  3. melayang jiwanya, memiliki makna meninggal
  4. melayang pikirannya, memiliki makna teringat suatu hal atau tidak dapat berfikir dengan baik 

Sinonim 

Sinonim adalah beberapa kata yang berbeda, tetapi memiliki makna yang sama atau hampir sama

Contoh:

  1. kata ‘sedih’ serupa maknanya dengan ‘pilu’
  2. kata ‘lembut’ serupa maknanya dengan ‘lunak’
  3. kata ‘bahagia’ serupa maknanya dengan ‘senang’ 

Antonim 

Antonim adalah beberapa kata yang memiliki makna yang saling bertentangan satu dengan lainnya.

Contoh:

  1. kata ‘susah’ bertentangan maknanya dengan kata ‘senang’
  2. kata ‘puji’ bertentangan maknanya dengan kata ‘maki’ 

Hiponim 

Hiponim adalah suatu kata yang maknanya merupakan bagian dari makna kata yang lebih luas. Lebih jelasnya dapat dilihat pada contoh berikut:

  1. kata ‘elang’ adalah hiponim dari kata ‘burung’
  2. kata ‘biru’ adalah hiponim dari kata ‘warna’

Dari contoh tersebut lebih jelas dipahami bahwa suatu kata hiponim adalah kata yang maknanya lebih sempit dan termasuk pada kata lain yang maknanya lebih luas.


Diberdayakan oleh Blogger.