Sejarah Berdirinya Roma

Jauh sebelum Roma berdiri, manusia telah lama tinggal menetap di Italia. Antara tahun 800 dan 400 sebelum masehi, sekelompok manusia yang disebut sebagai Etruscan telah sukses menciptakan sebuah peradaban yang maju. Peradaban ini berkembang di bagian barat laut wilayah ini.

Sejarah menyebutkan di tahun 753 sebelum masehi, Roma berdiri. Pendirinya adalah Romulus dan Remus yang konon kabarnya dibesarkan oleh serigala. Tentu saja kabar ini adalah sebuah legenda yang dipercaya oleh masyarakatnya.

Di tahun 550 SM, Roma tumbuh menjadi sebuah kota besar yang diperintah oleh Raja dari Bangsa Etruscan. Sampai di tahun 509 SM, masyarakat Roma kemudian mengusir Sang Raja dan menjadikan Roma sebagai sebuah Republik yang Merdeka. 

Republik Roma selanjutnya diperintah oleh Senat, sebuah dewan yang tersusun dari 100 tetua yang merupakan seorang pria dari keluarga terkenal. Republik Roma secara teori memang diperintah oleh masyarakatnya. 




Hanya saja, kekuasaan yang sesungguhnya justru berada di tangan para tetua. Sementara itu, rakyat jelata atau masyarakat biasa hanya memiliki sedikit saja kekuasaan. Apalagi, para budak yang saat itu ada, mereka tidak memiliki kekuasaan atau pun hak sama sekali.

Di bawah kekuasaan Roma yang semakin luas, perkebunan – perkebunan pun semakin bermunculan. Para budaklah yang harus mengerjakannya sementara para petani kecil pun juga mesti kehilangan pekerjaannya. Alhasil, jarak antara si kaya dan si miskin pun semakin lebar.

Golongan rakyat jelata dari masyarakat Roma ini merasa tak adil dan ingin mendapatkan hak yang lebih sebagai sesama penghuni Republik Roma. Karenanya, para rakyat jelata berjuang untuk mendapatkan kekuasaan. 

Hingga akhirnya, di tahun 287 SM, mereka pun mendapatkan hak untuk dapat menempatkan diri sebagai konsul, yakni posisi pejabat yang paling tinggi. Hingga saat tersebut, Roma masih terus berkembang dan menjadi peradaban yang cukup maju.

Sebelumnya, di tahun 400 SM sampai 300 an sebelum mashi, Roma berhasil memperluas kekuasaannya ke seluruh Italia. Roma berhasil membangun persekutuan dan kekuatan yang hebat, tapi sekaligus kejam. 

Sampai bertahun – tahun kemudian, kekuatan Roma terus berkembang dan bertambah kuat. Daerah kekuasaannya pun semakin banyak. Bahkan di tahun 264 SM, Roma berhasil menandingin Carthagia, sebuah kota yang berada di wilayah Afrika Utara. Carthagia adalah sebuah wilayah kuat yang mendominiasi Mediterania bagian Barat.

Baca juga: Revolusi China Masa Mao Zedong

Perang demi perang dilancarkan oleh Roma untuk memperkuat bala tentara dan memberbesar kekuasaannya. Sementara itu, Carthagia masih berada di bawah kekuatan Roma. Sampai di tahun 164 SM, Roma malah menghancurkan seluruh Carthagia setelah berhasil menyelesaikan Perang Punic.

Kemenangan demi kemenangan didapatkan Roma hingga Republik ini seolah semakin akrab dengan kekuatan dan kekuasan. Di tahun 130 SM, Roma pun sudah mampu membangun kekaisaran kuat yang terbentang mulai dari Spanyol hingga Turki dan sepanjang pantai Afrika Utara.


Kondisi Kemajuan Kota Roma

Kala itu, kekuatan dan kebesaran Roma hampir tak tertandingi. Kota – kota yang dimiliki Roma adalah kota terbesar dan merupakan yang paling canggih yang pernah dikenal dunia. Setiap kotanya dipadati oleh berbagai aktivitas bisnis.

Ada banyak toko, penginapan (tabernae), kafe (thermopilia), rumah mandi (thermae), dan toko roti (pistrina) yang ditemuakn di sebagian besar kota – kota ini. Ada forum yang merupakan pasar terbuka berukuran besar, pengadilan, balai kota, kuil, tempat pertunjukan terbuka yang luas, juga arena permainan atau stadion yang megah tempat para prajurit yang disebut gladiator bertarung dan berlomba.

Kota – kota di Roma juga memiliki persediaan air dan sistem pembuangan yang bagus. Pembangunan kotanya tidak dibuat di atas garis yang kaku seperti kota – kota Bangsa Yunani. Roma memiliki dua jalan utama dan banyak jalan kecil dengan jarak yang disebut insulae.

Kekuatan dan kekuasaan Roma ini semakin mencapai puncaknya antara tahun 96 – 180 Masehi. Saat itu, Roma dipimpin oleh para penguasa Antonines, Nerva, Trajan, Hadrian, serta Marcus Aurelius.